Wayang Orang: Perjalanan Seni Tradisi dari Keraton ke Panggung Modern

Minggu 03-08-2025,18:30 WIB
Reporter : Romdani
Editor : Budi Setiawan

Mulanya hanya dipentaskan di dalam lingkungan keraton, namun seiring dengan kondisi ekonomi istana yang melemah, seni pertunjukan ini mulai dibuka untuk masyarakat umum. 

Salah satu tokoh yang berperan besar dalam transformasi ini adalah seorang pengusaha keturunan Tionghoa. 

Ia menginisiasi pertunjukan wayang orang dalam format yang lebih modern dan menarik, lengkap dengan tata panggung, pencahayaan, dan penataan gerak yang terinspirasi dari gaya opera.

Langkah ini membuka jalan bagi pertunjukan wayang orang untuk tampil di ruang-ruang publik dan menjangkau kalangan masyarakat yang lebih luas. Banyak seniman dari luar keraton mulai terlibat dan turut menghidupkan seni ini.

BACA JUGA:Nyoman Paul Ungkap Alasan Belum Nikahi Keisya Levronka: Masih Jalani Proses

Dengan berkembangnya minat masyarakat, muncul berbagai kelompok wayang orang di kota-kota besar di Pulau Jawa. 

Di Surakarta, kelompok Sriwedari menjadi salah satu yang terkenal dan digemari masyarakat karena kualitas pertunjukannya yang konsisten. 

Kelompok ini sering menampilkan cerita-cerita klasik dengan kemasan yang rapi dan penuh makna.

Tidak hanya di Surakarta, kota-kota seperti Semarang, Madiun, Kediri, dan bahkan Jakarta juga turut membentuk kelompok-kelompok seni yang fokus pada pelestarian wayang orang. Era 1930-an hingga 1970-an bisa dibilang sebagai masa keemasan bagi seni ini.

BACA JUGA:7 Superfood untuk Mempertajam Otak, Cegah Pikun Sejak Dini

Namun, memasuki era 1980-an, pertunjukan wayang orang mengalami penurunan drastis. Banyak tokoh senior yang berhenti tampil tanpa sempat melahirkan generasi penerus. 

Sementara itu, selera masyarakat mulai bergeser ke hiburan modern seperti televisi, film, dan media digital. Hal ini membuat minat terhadap seni tradisional semakin menurun.

Banyak kelompok wayang orang yang akhirnya bubar atau tidak lagi aktif. Beberapa yang bertahan pun harus menghadapi tantangan besar seperti keterbatasan dana, kurangnya regenerasi pemain, dan minimnya perhatian dari masyarakat luas.

Meski sempat tenggelam, harapan terhadap kebangkitan wayang orang tetap ada. Institusi pendidikan seni memainkan peran penting dalam melahirkan pemain-pemain baru. 

BACA JUGA:7 Cara Efektif Menguleni Adonan Roti agar Kalis Sempurna

Para mahasiswa seni dilatih untuk memahami nilai-nilai budaya dalam pertunjukan ini dan berpartisipasi langsung di atas panggung.

Kategori :