Proses Pembuatan Tradisional
Pembuatan laklak secara tradisional menggunakan cetakan tanah liat yang dipercaya mampu menghasilkan aroma khas sekaligus kematangan yang merata.
Cetakan dipanaskan terlebih dahulu sebelum adonan dituangkan, lalu laklak dimasak dengan api kecil dan ditutup agar matang sempurna tanpa perlu dibalik.
Metode memasak ini membuat laklak tetap lembut dan tidak mudah kering. Prosesnya yang sederhana tetapi membutuhkan kesabaran menjadi salah satu daya tarik laklak sebagai jajanan tradisional bernilai budaya tinggi.
BACA JUGA:Betrand Peto Buka Suara soal Tuduhan Lebih Memilih Ruben Onsu Dibanding Sarwendah
Perbedaan Laklak dengan Serabi
Meski tampak serupa, laklak dan serabi memiliki perbedaan yang cukup jelas. Laklak umumnya berukuran lebih kecil, berwarna putih atau sedikit kehijauan, serta memiliki tekstur yang lebih ringan.
Sementara itu, serabi cenderung lebih tebal dengan variasi rasa dan topping yang lebih beragam.
Dari segi penyajian, laklak tetap mempertahankan cara tradisional dengan kelapa parut dan gula aren cair tanpa tambahan modern seperti cokelat atau keju, sehingga cita rasa aslinya tetap terjaga.
BACA JUGA:Richard Lee Resmi Jadi Tersangka, Dijadwalkan Jalani Pemeriksaan di Polda Metro Jaya
Laklak dalam Kehidupan Modern
Di tengah perkembangan kuliner modern, laklak masih mudah ditemukan di pasar tradisional Bali dan dijajakan oleh pedagang kaki lima. Bahkan, sejumlah pelaku UMKM mulai mengemas laklak sebagai oleh-oleh khas Bali yang menarik bagi wisatawan.
Dengan bahan baku yang terjangkau, proses pembuatan yang relatif mudah, serta rasa yang diterima berbagai kalangan usia, laklak memiliki potensi besar sebagai produk kuliner bernilai ekonomi.
Inovasi dalam kemasan yang higienis dan menarik dapat membuat laklak semakin kompetitif tanpa menghilangkan identitas tradisionalnya.
BACA JUGA:'Jatuh Miskin', Penerimaan Dana Desa 2026 Pesisir Barat Turun 60 Persen
Nilai Gizi dan Daya Tarik Laklak