Anyaman-anyaman ini mencerminkan kesabaran dan kehalusan estetis.
Dalam budaya Dayak, proses menganyam adalah bagian dari kehidupan sehari-hari yang melibatkan ketelitian dan nilai simbolik: menganyam berarti menyatukan harmoni dalam setiap jalinan.
BACA JUGA:Wisata Taman Putroe Phang dan Legenda Cinta Abadi di Aceh
Budaya dan Fauna yang Menghidupkan Ruang Museum
Selain koleksi kayu dan seni ukir, museum menampilkan satwa-satwa yang diawetkan seperti:
- buaya muara berukuran 6 meter,
- biawak besar,
- kucing hutan,
- kepiting kelapa,
- berang-berang.
Bagi masyarakat Kutai dan Dayak, hewan-hewan ini tidak hanya bagian dari ekosistem, tetapi juga memiliki makna budaya. Misalnya, buaya dalam beberapa cerita rakyat dipandang sebagai penjaga sungai, sementara berang-berang sering hadir dalam legenda yang mengajarkan kerja keras dan kebersamaan.
BACA JUGA:Saldo DANA Gratis Rp220.000 Cair! Begini Cara Aman Klaimnya
Tiket Masuk dan Lokasi Museum
Harga tiket masuk museum sangat ramah di kantong:
- Anak-anak: Rp5.000
- Dewasa: Rp10.000
Museum ini terletak di kawasan Waduk Panji Sukarame, Tenggarong, sebuah area yang sering menjadi tujuan wisata keluarga. Jam operasional berlangsung setiap hari dari pukul 09.00 hingga 16.00 WITA, sehingga pengunjung memiliki waktu yang cukup untuk menikmati semua koleksi dengan santai.
BACA JUGA:Simulasi Cicilan KUR BRI 2025 Pinjaman Rp100 Juta Terbaru
Pesan Pelestarian dari Tanah Borneo
Salah satu pesan yang sangat dikenal dari museum ini adalah: “Satu pohon dapat membuat jutaan batang korek api, tetapi satu batang korek api dapat membakar jutaan pohon.”
Pesan ini bukan sekadar peringatan, melainkan ajaran moral yang sejalan dengan nilai budaya masyarakat Dayak: bahwa hutan adalah sumber kehidupan yang harus dijaga.
Melalui museum ini, seni, budaya, dan alam bersatu untuk mengingatkan pengunjung bahwa kelestarian hutan adalah tanggung jawab bersama.
BACA JUGA:Ciri-Ciri Lambung Luka yang Perlu Diwaspadai