Kucing dalam Budaya Mesir Kuno: Simbol Kesucian, Perlindungan, dan Kehidupan

Rabu 04-02-2026,07:57 WIB
Reporter : Romdani
Editor : Budi Setiawan

Karena kucing dianggap suci, pemerintah Mesir Kuno sempat melarang ekspor kucing ke luar negeri. Namun, melalui perdagangan dan ekspedisi laut, kucing akhirnya menyebar ke wilayah Mediterania dan Eropa. 

Bangsa lain kemudian mengenal kucing sebagai pembasmi hama, meskipun tidak selalu memuliakannya seperti di Mesir.

Ironisnya, ketika Mesir jatuh ke tangan kekuatan asing, penghormatan terhadap kucing mulai berkurang. Namun warisan budaya tentang kucing sebagai makhluk istimewa tetap hidup hingga kini.

BACA JUGA:Jalan Tembus Stadion Sukung Kotabumi Longsor, Pemkab Lampung Utara Bergerak Cepat

Warisan Budaya hingga Masa Kini

Pandangan Mesir Kuno terhadap kucing memberikan pengaruh besar pada cara manusia modern memandang hewan ini. 

Kucing masih sering diasosiasikan dengan keanggunan, misteri, dan kemandirian. Banyak patung, perhiasan, dan karya seni modern yang terinspirasi dari simbol kucing Mesir Kuno.

Hingga sekarang, kucing tetap menjadi salah satu hewan peliharaan paling populer di dunia. Hubungan emosional antara manusia dan kucing seakan mengulang kembali ikatan yang telah terjalin ribuan tahun lalu di tanah Mesir.

BACA JUGA:Anrez Adelio Tak Diizinkan Dampingi Persalinan Icel

Dalam budaya Mesir Kuno, kucing bukan hanya hewan penjaga rumah, tetapi simbol kehidupan, perlindungan, dan hubungan spiritual dengan para dewa. 

Penghormatan yang begitu besar menunjukkan betapa masyarakat Mesir memahami keseimbangan antara manusia, alam, dan dunia spiritual. 

Melalui kisah kucing, kita dapat melihat bagaimana sebuah peradaban kuno meninggalkan warisan nilai yang masih terasa hingga saat ini.(*)

Kategori :