Tahtib: Seni Bela Diri Kuno Mesir yang Tetap Hidup di Era Modern

Tahtib: Seni Bela Diri Kuno Mesir yang Tetap Hidup di Era Modern

Tahtib adalah bukti bahwa peradaban besar tidak hanya dikenang melalui batu dan prasasti, tetapi juga melalui tradisi hidup yang terus dipraktikkan. - Foto Instagram@ancient_origins--

MEDIALAMPUNG.CO.ID - Mesir dikenal dunia sebagai negeri yang kaya akan peninggalan peradaban kuno. Piramida, hieroglif, dan patung-patung raksasa menjadi simbol kejayaan masa lampau yang masih berdiri hingga kini. 

Namun, warisan Mesir tidak hanya berbentuk bangunan atau artefak mati. Ada pula tradisi hidup yang terus diwariskan lintas generasi, salah satunya adalah Tahtib, sebuah seni bela diri menggunakan tongkat yang berasal dari era Mesir Kuno.

Tahtib bukan sekadar pertunjukan fisik, melainkan cerminan hubungan masyarakat Mesir dengan sejarah, identitas, dan nilai-nilai keberanian. 

Seni ini telah ada ribuan tahun lalu dan tetap bertahan hingga masa modern, menjadikannya salah satu warisan budaya tertua yang masih dipraktikkan manusia.

BACA JUGA:Wisata Pantai Mandiri Sejati Telan Korban, Warga Lampung Utara Hanyut

Akar Tahtib dalam Peradaban Mesir Kuno

Pada masa Mesir Kuno, kemampuan bertarung merupakan keterampilan penting bagi prajurit. Selain memanah dan bergulat, penggunaan tongkat menjadi bagian dari pelatihan militer. 

Tongkat dianggap senjata yang praktis, mudah dibuat, dan efektif untuk pertahanan jarak dekat. Dari sinilah Tahtib lahir sebagai teknik bela diri yang terstruktur.

Bukti keberadaan Tahtib dapat ditemukan dalam relief dan ukiran dinding makam para bangsawan dan keluarga firaun. 

BACA JUGA:Jessica Mila Rencanakan Tambah Momongan pada 2026, Nikmati Peran Sebagai Ibu

Salah satu lokasi paling terkenal adalah Kompleks Pemakaman Bani Hasan di wilayah Minya, yang berasal dari masa Dinasti ke-11, sekitar 1900–1700 SM. 

Di sana tergambar jelas adegan dua orang yang saling berhadapan menggunakan tongkat, menunjukkan bahwa praktik ini telah dikenal dan diajarkan secara sistematis.

Awalnya, Tahtib terbatas pada kalangan militer. Namun seiring waktu, keterampilan ini menyebar ke masyarakat luas. 

Petani, nelayan, dan warga desa mempelajari Tahtib sebagai bentuk perlindungan diri, terutama di wilayah Mesir Hulu (Upper Egypt), yang dikenal dengan sebutan Sha‘idi.

BACA JUGA:Pihak Inara Rusli Minta Wardatina Mawa Hentikan Pembahasan Dugaan Perzinaan Sebelum Ada Tersangka

Dari Bela Diri ke Seni Pertunjukan

Perubahan zaman membawa perubahan fungsi Tahtib. Ketika peran militer tongkat mulai berkurang, Tahtib tidak punah, melainkan bertransformasi. Seni bela diri ini beralih menjadi bagian dari tradisi sosial dan budaya masyarakat Mesir Selatan.

Saat ini, Tahtib sering ditampilkan dalam berbagai acara, seperti pernikahan, perayaan keagamaan, festival desa, hingga hiburan rakyat. 

Pertunjukan biasanya dilakukan di ruang terbuka, dengan para penonton membentuk lingkaran. Dua pemain akan maju ke tengah arena, saling berhadapan dengan tongkat panjang di tangan mereka.

BACA JUGA:10 Merek Sepatu Branded Paling Populer dan Digemari di Indonesia

Pertunjukan Tahtib diiringi musik tradisional seperti tabuhan darbuka dan tiupan alat musik tiup khas Mesir. Gerakan yang ditampilkan bukan sekadar adu kekuatan, tetapi juga permainan strategi, ketangkasan, dan pengendalian diri. 

Ada aturan tidak tertulis yang dijunjung tinggi, termasuk sikap saling menghormati antar pemain.

Busana yang dikenakan pun khas, biasanya berupa jubah longgar (jalabiyyah) dan sorban putih. 

Hal ini menambah kesan sakral sekaligus estetis, memperlihatkan bahwa Tahtib bukan perkelahian, melainkan seni yang sarat makna budaya.

BACA JUGA:Kebudayaan Mesir Kuno dan Jejak Peradabannya yang Mengagumkan

Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Tahtib

Tahtib mengajarkan lebih dari sekadar teknik bertarung. Di dalamnya terkandung nilai keberanian, kehormatan, kesabaran, dan sportivitas. 

Seorang pemain Tahtib dituntut untuk mampu mengendalikan emosi dan tidak menggunakan keterampilannya untuk menyakiti secara berlebihan.

Bagi masyarakat Mesir Hulu, Tahtib juga menjadi simbol kebanggaan identitas lokal. Tradisi ini diwariskan dari ayah ke anak, dari guru ke murid, tanpa harus melalui lembaga formal. Dengan cara inilah Tahtib tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman.

BACA JUGA:Papan Reklame Roboh di Kotabumi, Ibu Paruh Baya Nyaris Tertimpa

Tahtib di Era Modern dan Pengakuan Dunia

Upaya pelestarian Tahtib semakin serius di era modern. Salah satu tokoh penting dalam kebangkitan Tahtib adalah Dr. Adel Boulad, yang menggagas konsep Tahtib Modern. Ia meneliti praktik Tahtib tradisional selama bertahun-tahun, baik di Mesir maupun di Eropa, untuk menyusun sistem yang lebih terstruktur tanpa menghilangkan akar tradisinya.

Pada tahun 2014, Tahtib Modern diperkenalkan secara resmi melalui publikasi dan pelatihan internasional. Pendekatan ini membuat Tahtib dapat dipelajari oleh berbagai kalangan, termasuk generasi muda dan komunitas global.

Puncak pengakuan dunia datang pada tahun 2016, ketika UNESCO menetapkan Tahtib sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia. Pengakuan ini menegaskan bahwa Tahtib bukan hanya milik Mesir, tetapi juga bagian dari warisan peradaban manusia.

BACA JUGA:Hari Jadi Intelijen Polri ke-80, Ditintelkam Polda Lampung Gelar Doa Bersama

Warisan Hidup dari Masa Lalu

Tahtib adalah bukti bahwa peradaban besar tidak hanya dikenang melalui batu dan prasasti, tetapi juga melalui tradisi hidup yang terus dipraktikkan. 

Di tengah modernisasi dan globalisasi, masyarakat Mesir berhasil menjaga hubungan harmonis dengan masa lalunya.

Seni bela diri ini menunjukkan bahwa warisan budaya bukan beban sejarah, melainkan harta berharga yang memberi identitas dan kebanggaan. Selama tongkat Tahtib masih diayunkan di tanah Mesir, selama itu pula jejak peradaban kuno akan terus hidup di dunia modern.(*)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: