Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, orang Mesir Kuno mengembangkan jam air, yang dikenal dengan sebutan clepsydra.
Jam air bekerja dengan memanfaatkan aliran air yang mengalir secara perlahan dari satu wadah ke wadah lain.
Tinggi permukaan air yang berkurang atau bertambah dijadikan penanda berlalunya waktu.
Jam air biasanya berupa wadah batu atau tanah liat yang memiliki lubang kecil di bagian bawahnya.
BACA JUGA:Rekomendasi Smartwatch untuk Bersepeda, Miliki GPS yang Akurat
Di bagian dalam wadah terdapat garis-garis penanda yang menunjukkan satuan waktu tertentu.
Ketika air mengalir keluar atau masuk dengan kecepatan yang relatif konstan, masyarakat Mesir Kuno dapat memperkirakan waktu dengan cukup teliti.
Jam air ini sangat berguna pada malam hari, terutama untuk menentukan waktu pelaksanaan ritual keagamaan di kuil-kuil.
Keunggulan jam air terletak pada kemampuannya untuk digunakan tanpa bergantung pada cahaya matahari.
BACA JUGA:Kasus Korupsi Masjid Agung Mesuji Rp77,5 M Disorot, Oknum Penyidik Dilaporkan ke Mabes Polri
Oleh sebab itu, alat ini sering digunakan oleh para pendeta dan penjaga kuil yang harus menjalankan ibadah pada waktu-waktu tertentu, termasuk di malam hari.
Selain itu, jam air juga digunakan dalam kegiatan ilmiah dan astronomi, seperti pengamatan bintang yang penting bagi kalender Mesir Kuno.
Menariknya, jam air Mesir Kuno tidak hanya berfungsi sebagai alat praktis, tetapi juga menunjukkan pemahaman mereka tentang prinsip fisika sederhana, seperti aliran dan tekanan air.
Beberapa jam air bahkan dirancang dengan bentuk yang rumit dan dihiasi ukiran, menandakan bahwa alat ini memiliki nilai estetika sekaligus simbolis.
BACA JUGA:Panduan Tabel KUR BRI 2026: Simulasi Cicilan dan Jenis Pinjaman untuk UMKM
Baik jam matahari maupun jam air mencerminkan tingkat kecerdasan dan ketelitian masyarakat Mesir Kuno dalam mengatur waktu.