Waktu dan Suasana Khas Bermain
Ada dua momen utama ketika meriam bambu sering dimainkan. Pertama, pada sore hari menjelang berbuka puasa.
Dentumannya menjadi hiburan sambil menanti azan magrib. Kedua, pada malam hari setelah salat tarawih, di mana udara lebih sejuk dan suasana menjadi lebih semarak.
Di beberapa daerah, permainan ini bahkan menjadi ajang lomba tidak resmi. Kelompok pemain berlomba menghasilkan suara ledakan yang paling nyaring atau gema yang paling panjang. Orang tua biasanya turut hadir, baik untuk mengawasi maupun menikmati suasana.
BACA JUGA:2.446 Desa di Lampung Jadi Sasaran Penguatan Tata Kelola Dana Desa
Makna Kebersamaan dalam Tradisi
Meriam bambu bukan hanya permainan, tetapi juga sarana mempererat hubungan antarwarga.
Proses pembuatannya biasanya dilakukan secara gotong royong, mulai dari mencari bambu, memotong, melubangi, hingga menyiapkan bahan bakar. Anak-anak belajar bekerja sama, berbagi peran, dan saling membantu.
Selain itu, permainan ini menjadi salah satu cara melestarikan budaya lokal. Di tengah gempuran permainan modern, memperkenalkan meriam bambu kepada generasi muda berarti menanamkan rasa bangga pada warisan budaya bangsa.
BACA JUGA:Lampung Targetkan Jadi Garda Terdepan Ketahanan Pangan Nasional
Risiko dan Langkah Pengamanan
Walaupun menyenangkan, permainan ini memiliki risiko yang perlu diwaspadai. Ledakan yang terlalu besar atau penggunaan bahan bakar berlebihan bisa menyebabkan cedera.
Oleh karena itu, pengawasan orang dewasa sangat dibutuhkan, terutama ketika pemainnya masih anak-anak.
Di beberapa daerah, pemerintah setempat menerapkan aturan untuk memastikan keamanan permainan. Misalnya, membatasi waktu penggunaan, menentukan lokasi yang aman, dan melarang penggunaan bahan peledak berbahaya.
BACA JUGA:Disway Group Tunjuk Mashudi Jadi Direktur Pemberitaan dan Jaringan, Siap Perkuat Strategi Nasional
Meriam Bambu di Tengah Perkembangan Zaman