Tari Gandai Khas Bengkulu: Kisah Cinta Sejoli Bumi dan Langit

Tari Gandai Khas Bengkulu: Kisah Cinta Sejoli Bumi dan Langit

Tari Gandai memiliki nilai sejarah, budaya, dan filosofi yang sangat kaya. Foto:Instagram@gun_afriansyah--

MEDIALAMPUNG.CO.ID - Indonesia dikenal sebagai negeri yang kaya akan seni dan budaya, salah satunya adalah ragam tarian tradisional yang tumbuh dan berkembang di setiap daerah.

Dari Provinsi Bengkulu, tepatnya di Kabupaten Mukomuko, terdapat sebuah tarian tradisional yang sarat makna dan nilai kebersamaan, yaitu Tari Gandai. Tarian ini berasal dari masyarakat Mukomuko dan Pekal, dan hingga kini masih dijaga sebagai bagian penting dari tradisi adat setempat.

Nama Gandai sendiri memiliki makna “berpasangan” atau “berdua”. Hal ini sesuai dengan bentuk penyajiannya yang umumnya dimainkan oleh dua orang penari secara berpasangan.

Sejak dahulu, Tari Gandai bukan sekadar hiburan, melainkan menjadi sarana komunikasi sosial, ungkapan rasa syukur, serta media penyampaian nilai-nilai kehidupan kepada masyarakat.

BACA JUGA:Denada Menolak Gugatan Ganti Rugi Rp7 Miliar dari Ressa Rizky Rossano

Asal-usul dan Kisah Legenda Tari Gandai

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, Tari Gandai telah dikenal sejak sekitar abad ke-15 atau awal tahun 1600-an. Tarian ini berakar dari sebuah cerita rakyat yang sangat populer di Mukomuko, yaitu kisah Malim Deman dan Putri Muhammad Duyah. Cerita ini mengisahkan tentang pernikahan antara manusia bumi dan manusia langit, yang melambangkan persatuan dua dunia yang berbeda.

Legenda tersebut mengandung pesan tentang cinta, kesetiaan, serta keberanian dalam menghadapi perbedaan.

Nilai-nilai inilah yang kemudian diwujudkan dalam gerakan Tari Gandai yang lembut, mengalir, dan penuh makna simbolis. Setiap gerakan menggambarkan perjalanan hidup, mulai dari pertemuan, kebersamaan, hingga keharmonisan.

BACA JUGA:Rujuk dengan Insanul Fahmi, Inara Rusli Dinilai Hotman Paris Salah Langkah

Fungsi Tari Gandai dalam Kehidupan Masyarakat

Pada masa lalu, Tari Gandai sangat lekat dengan kehidupan sosial masyarakat Pekal. Setiap malam Jumat, warga akan berkumpul di balai desa untuk merayakan hasil panen.

Kegiatan ini bukan hanya sebagai bentuk rasa syukur, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi antarwarga. Dalam suasana tersebut, Tari Gandai ditampilkan sebagai hiburan sekaligus pengikat kebersamaan.

Hingga kini, fungsi Tari Gandai masih tetap lestari. Tarian ini sering ditampilkan dalam berbagai acara adat dan perayaan rakyat, seperti pernikahan, khitanan, penyambutan tamu kehormatan, peringatan hari jadi daerah, hingga festival budaya. Kehadirannya dipercaya dapat menciptakan suasana hangat dan mempererat hubungan antar anggota masyarakat.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: