Untuk memainkan rindik, pemain menggunakan dua batang pemukul kecil yang disebut dengan panggul ataupun talu.
Dengan memukul tiap batang bambu secara bergantian, pemain menghasilkan alunan nada lembut dan ritmis.
Yang menakjubkan, para pemain berpengalaman dapat menciptakan irama yang cepat dan kompleks, namun tetap menjaga kehalusan suara yang menenangkan.
Karakter suara rindik dikenal sebagai lembut, jernih, dan repetitif—tetapi mengalir dalam harmoni yang cocok untuk suasana reflektif, meditasi, atau sekadar menciptakan suasana tenang.
BACA JUGA:Update Terbaru KUR BRI Juli 2025, Pinjaman hingga Rp500 Juta Cicilan Mulai Rp1 Jutaan
Dalam praktik budaya Bali, rindik hadir sejak di sawah hingga dalam ritual. Ia mengiringi:
- Joged Bumbung atau tarian rakyat sederhana yang biasa ditampilkan di sela aktivitas bersama komunitas.
- Upacara adat, seperti Piodalan (hari jadi pura) dan Ngaben (kremasi), di mana rindik menemani prosesi sakral dan pendampingan spiritual.
- Pertunjukan tari klasik, seperti Legong, Barong, dan Kecak, di mana suara rindik menambah nuansa magis pada setiap lenggak gerakan.
Meski bermula dari kegiatan petani, rindik kini juga hadir di ruang modern: hotel, restoran, spa, dan acara wisata—sebagai bagian dari promosi budaya Bali.
Instrumen ini bahkan dipadukan dalam konser atau rekaman modern, menunjukkan fleksibilitas dan kemampuannya untuk tetap relevan dalam konteks global.
Sanggar-sanggar seni di Bali juga menjangkau generasi muda melalui pelatihan formal dan informal, menjaga kelangsungan teknik permainan dan pembuatan rindik.
Rindik bukan sekadar alat musik; ia adalah artefak budaya yang memuat ideologi, praktik, dan nilai estetika masyarakat Bali.
BACA JUGA:Mustang EcoBoost Siap Debut di GIIAS 2025, Lebih Murah Berkat Tarif Trump?
Filosofi hidup yang dituangkan melalui dentingan bambu ini meliputi kepedulian terhadap alam, harmoni sosial, dan rasa syukur spiritual.