MEDIALAMPUNG.CO.ID - Gelombang pemutusan hubungan kerja yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir meninggalkan jejak kecemasan di kalangan anak muda.
Status sebagai karyawan tetap yang dulu dianggap aman kini tak lagi menjamin kepastian masa depan.
Dari situ, banyak generasi muda mulai mengubah cara pandang mereka terhadap pekerjaan.
Rasa takut akan PHK perlahan bergeser menjadi keberanian untuk mencoba jalur freelance sebagai upaya menyelamatkan diri secara ekonomi.
BACA JUGA:Tak Lagi Terikat Kantor, Anak Muda Memilih Bekerja Berbasis Karya
Freelance bukan lagi sekadar pekerjaan sampingan, melainkan strategi bertahan di tengah dunia kerja yang semakin tidak pasti.
Anak muda melihat kebebasan berbasis keahlian sebagai peluang untuk tetap memiliki kendali atas penghasilan dan karier.
Bagi banyak anak muda, PHK bukan lagi isu yang jauh. Berbagai sektor industri mengalami penyesuaian akibat kondisi ekonomi global, digitalisasi, hingga efisiensi perusahaan. Situasi ini membuat status karyawan tetap kehilangan makna keamanannya.
Kondisi tersebut memicu perubahan pola pikir. Anak muda mulai menyadari bahwa bergantung pada satu sumber penghasilan justru berisiko.
BACA JUGA:Dari Kantor ke Proyek, Freelance Kreatif Mengubah Cara Kerja di Indonesia
Dari sinilah muncul kesadaran untuk membangun keahlian yang bisa dijual secara mandiri, tanpa bergantung pada satu perusahaan.
Freelance hadir sebagai jawaban atas kegelisahan tersebut. Dengan menjual skill, bukan jabatan, anak muda dapat tetap produktif meski tanpa ikatan kerja formal.
Penulis, desainer grafis, editor video, ilustrator, fotografer, hingga social media specialist menjadi profesi yang semakin diminati.
Model kerja berbasis proyek memungkinkan anak muda menjangkau banyak klien sekaligus. Jika satu proyek selesai atau satu klien berhenti, masih ada peluang lain yang bisa dikejar. Pola ini memberi rasa aman baru yang justru lahir dari kemandirian.
BACA JUGA:Dari Karyawan ke Pekerja Mandiri, Sebuah Perjalanan Mental