Beralih dari dunia kantor ke dunia freelance bukan keputusan mudah. Banyak anak muda harus menghadapi ketidakpastian penghasilan, tekanan target, hingga tuntutan disiplin diri yang tinggi.
Namun, ketakutan tersebut kerap kalah oleh keinginan untuk memiliki kendali penuh atas hidup dan waktu.
Keberanian ini juga didorong oleh pengalaman melihat rekan kerja yang terkena PHK secara mendadak.
Dari situ, freelance dipandang bukan sebagai pilihan nekat, melainkan langkah realistis untuk mengurangi risiko kehilangan penghasilan secara tiba-tiba.
BACA JUGA:Dari Tak Punya Pegangan, Freelance Mengajarkan Arti Kendali Hidup
Dalam dunia freelance, ijazah dan jabatan bukan lagi penentu utama. Yang paling berharga adalah kemampuan dan reputasi.
Anak muda yang berani terjun ke dunia freelance dituntut untuk terus mengasah skill sekaligus membangun personal branding yang kuat.
Portofolio digital, kehadiran di media sosial, serta konsistensi kualitas kerja menjadi modal penting.
Mereka yang mampu beradaptasi dan membaca kebutuhan pasar akan lebih cepat menemukan ritme kerja yang stabil.
BACA JUGA:Saat AI Menguasai Segalanya, Sentuhan Manusia Justru Makin Bernilai
Fenomena beralihnya anak muda dari rasa takut PHK menuju keberanian menjadi freelancer menandai perubahan besar dunia kerja Indonesia.
Masa depan kerja tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh perusahaan, tetapi oleh kemampuan individu mengelola keahlian dan peluang.
Freelance memberi ruang bagi anak muda untuk tidak sekadar bertahan, tetapi juga berkembang. Di tengah ketidakpastian ekonomi, keberanian untuk mandiri justru menjadi cara paling rasional untuk menyelamatkan diri dan membangun masa depan kerja yang lebih tangguh.