Bagi sebagian orang, freelance dimulai sebagai pekerjaan sampingan. Namun seiring waktu, tidak sedikit yang justru menjadikannya sumber penghasilan utama karena dinilai lebih menjanjikan dibandingkan upah tetap yang stagnan.
Meski menawarkan kebebasan, dunia freelance bukan tanpa risiko. Tidak adanya pendapatan tetap, minimnya perlindungan sosial, hingga ketidakpastian proyek menjadi tantangan yang harus dihadapi.
Freelancer dituntut mampu mengatur keuangan dengan disiplin tinggi, termasuk menyiapkan dana darurat dan mengelola masa tanpa pekerjaan.
Namun bagi banyak pekerja, ketidakpastian tersebut tetap terasa lebih masuk akal dibandingkan kepastian gaji yang tak mampu mengejar kebutuhan hidup. Dalam konteks ini, freelance dipandang sebagai bentuk kontrol atas nasib ekonomi sendiri.
BACA JUGA:Freelance dan Makna Bekerja di Era Baru
Fenomena ini menandai pergeseran besar dalam makna bekerja. Pekerjaan tidak lagi semata soal status formal, melainkan soal kemampuan bertahan dan beradaptasi.
Generasi pekerja saat ini semakin pragmatis, menilai pekerjaan dari sejauh mana ia mampu memberi ruang hidup yang layak, bukan sekadar label.
Freelance pun berkembang menjadi simbol perlawanan sunyi terhadap sistem upah yang dinilai tidak lagi relevan dengan realitas ekonomi.
Jika tren ini terus berlanjut, pemerintah dan pemangku kebijakan dihadapkan pada tantangan besar.
BACA JUGA:Di Mana Posisi Freelancer dalam Ekonomi Modern?
Ketimpangan antara upah minimum dan biaya hidup berpotensi melahirkan generasi pekerja tanpa jaminan sosial yang memadai.
Tanpa kebijakan adaptif, sektor freelance bisa tumbuh tanpa perlindungan, sementara sektor formal kehilangan daya tariknya.
Di tengah situasi tersebut, freelance akan terus menjadi pelarian rasional bagi mereka yang merasa UMR bukan lagi jawaban atas kebutuhan hidup yang kian mahal.