Adu Ketangkasan Sakral dalam Tradisi Tari Caci Manggarai

Jumat 02-01-2026,13:54 WIB
Reporter : Romdani
Editor : Budi Setiawan

Dalam pelaksanaan Tari Caci, terdapat pembagian peran yang jelas. 

Penari yang bertugas menyerang disebut Paki, sedangkan penari yang bertahan dinamakan Ta’ang. Pertarungan berlangsung secara bergantian antara menyerang dan menangkis.

Seorang penari dinyatakan kalah apabila cambuk lawan mengenai area wajah atau mata, karena bagian tersebut dianggap paling vital dan harus dilindungi.

BACA JUGA:Ayam Paniki, Kuliner Pedas Khas Sulawesi Utara dengan Rempah Kuat

Unsur Seni dan Syair Adat

Selain adu ketangkasan, Tari Caci juga mengandung unsur seni yang kuat. Gerakan penari mengikuti irama musik tradisional dalam gerak yang disebut Lomes, selaras dengan tabuhan gong dan gendang.

Di sela-sela pertunjukan, penari kerap melantunkan pantun atau syair adat yang dikenal dengan istilah Paci. 

Syair ini biasanya berisi nasihat, sindiran halus, atau ungkapan kebanggaan terhadap kampung halaman.

BACA JUGA:Mengenal Obat Diabetes Alami yang Membantu Menurunkan Gula Darah secara Bertahap dan Aman

Tuak Bakok dan Semangat Bertarung

Sebelum memasuki arena, para penari biasanya meminum Tuak Bakok, minuman tradisional khas Manggarai. 

Minuman ini dipercaya dapat membangkitkan semangat dan keberanian. 

Meski demikian, konsumsi tuak tetap berada dalam pengawasan adat agar tidak menghilangkan kendali diri penari selama bertanding.

BACA JUGA:Skema KUR BRI 2026 Resmi Berlaku: Bunga Tetap 6 Persen dan Plafon Hingga Rp 500 Juta

Warisan Budaya Bernilai Luhur

Pada akhirnya, Tari Caci bukan sekadar tontonan, melainkan cerminan jati diri masyarakat adat Manggarai. 

Kategori :