Tradisi Rebut Dandang: Simbol Ujian dan Keteguhan dalam Pernikahan Adat

Tradisi Rebut Dandang: Simbol Ujian dan Keteguhan dalam Pernikahan Adat

Tradisi ini mengajarkan bahwa pernikahan bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab besar. Foto:[email protected]

MEDIALAMPUNG.CO.ID - Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan tradisi budaya, termasuk dalam prosesi pernikahan adat. Setiap daerah memiliki tata cara dan ritual tersendiri yang sarat makna filosofis.

Salah satu tradisi pernikahan yang unik dan menarik adalah Rebut Dandang, sebuah prosesi adat yang memadukan unsur seni bela diri, sastra lisan berupa pantun, serta simbol perjuangan hidup berumah tangga.

Tradisi ini bukan sekadar hiburan, melainkan sarana penyampaian pesan moral tentang tanggung jawab dan keteguhan calon mempelai pria.

Rebut Dandang umumnya dilaksanakan menjelang atau sesaat sebelum kedua mempelai dipersandingkan. Dalam tradisi ini, dandang—alat masak tradisional—digunakan sebagai simbol utama.

BACA JUGA:Hearing Kedua PT KAP Berlangsung Normatif, Dokumen HGU Tak Dibawa

Dandang melambangkan sumber kehidupan, kesejahteraan, dan tanggung jawab dalam rumah tangga.

Oleh karena itu, upaya merebut dandang dimaknai sebagai kesiapan seorang laki-laki untuk menafkahi, melindungi, dan memimpin keluarganya kelak.

Prosesi Rebut Dandang melibatkan dua orang jawara atau pendekar adat yang mewakili masing-masing pihak keluarga.

Jawara dari pihak mempelai wanita bertugas menjaga dandang, sementara jawara dari pihak mempelai pria berusaha merebutnya.

BACA JUGA:77 Ribu Perusahaan Beroperasi di Lampung, Pengawasan UMP 2026 Jadi Tantangan

Namun, proses ini tidak dilakukan secara kasar atau semata-mata adu fisik. Sebelum adu ketangkasan dimulai, kedua jawara biasanya saling berbalas pantun.

Pantun-pantun yang dilantunkan berisi sindiran halus, nasihat, serta tantangan simbolis. Melalui pantun tersebut, pihak mempelai wanita seakan menguji niat, kesungguhan, dan kesiapan calon mempelai pria.

Sebaliknya, pantun dari pihak mempelai pria menjadi jawaban atas tantangan tersebut, menunjukkan tekad, kepercayaan diri, dan kesediaan menghadapi berbagai rintangan kehidupan rumah tangga.

Tradisi ini mencerminkan kecerdasan verbal dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: