Jejak Sejarah dan Perkembangannya
Tari Caci diyakini berasal dari Desa Todo, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai, Pulau Flores.
Dari daerah inilah tradisi Caci kemudian menyebar ke berbagai wilayah Manggarai, termasuk Manggarai Timur.
Seiring perkembangan zaman, Caci tidak lagi dipandang semata sebagai adu fisik, melainkan berkembang menjadi kesenian rakyat yang memadukan gerak tari, iringan musik tradisional, serta syair-syair adat yang penuh pesan moral.
BACA JUGA:Xiaomi MIX 5 Dirumorkan Jadi HP Full-Screen Sejati, Kalahkan iPhone 18?
Simbol Kejantanan dan Keberanian
Dalam budaya Manggarai, Tari Caci menjadi simbol kejantanan dan keberanian seorang laki-laki.
Karena itu, secara adat tarian ini hanya boleh dimainkan oleh kaum pria. Tidak semua orang dapat turun ke arena Caci, sebab diperlukan kesiapan mental dan fisik yang kuat.
Risiko luka menjadi bagian dari konsekuensi yang harus diterima penari. Namun, prinsip utama dalam Caci adalah keberanian menerima kekalahan serta menjunjung tinggi kehormatan diri dan lawan.
BACA JUGA:60 Kode Redeem FF Edisi 2 Januari 2026: Banjir Hadiah Awal Tahun, Sikat Sebelum Limit!
Kostum dan Perlengkapan Khas Penari
Keunikan Tari Caci juga terlihat dari perlengkapan dan kostum yang digunakan. Senjata utama penari adalah cambuk yang disebut larik dan perisai yang dinamakan nggiling. Penari juga mengenakan panggal sebagai penutup kepala dan koret sebagai alat penangkis tambahan.
Busana penari biasanya berupa celana putih yang dibalut kain songke khas Manggarai, lengkap dengan selendang di pinggang. Di bagian belakang pinggang terikat untaian ring-ring, yakni lonceng kecil yang menghasilkan bunyi ritmis setiap kali penari bergerak.
Wajah penari ditutupi kain destar batik, namun bagian mata dibiarkan terbuka agar penari dapat membaca arah gerakan dan serangan lawan.
BACA JUGA:Cushion Tahan Lama untuk Cuaca Panas, Anti Luntur Seharian
Aturan Pertarungan dalam Arena Caci