Wisata Merauke: Keindahan Alam dan Budaya Papua Selatan

Rabu 08-10-2025,17:52 WIB
Reporter : Yayan Prantoso
Editor : Budi Setiawan

Kawasan ini sering dijuluki “Serengeti-nya Papua” karena bentang savananya yang luas, dihuni ribuan satwa liar seperti rusa, kasuari, kanguru pohon, hingga burung migran dari Australia. 

Pagi hari di Wasur, suara burung dan angin savana berpadu menciptakan suasana alami yang menenangkan.

Tak jauh dari sana, mengalir Sungai Maro yang menjadi urat nadi kehidupan kota. Sungai ini tidak hanya menjadi jalur transportasi, tetapi juga sumber penghidupan masyarakat. 

Di tepinya berdiri rumah-rumah nelayan dan pasar ikan yang selalu ramai dengan hasil tangkapan segar dari sungai dan laut.

BACA JUGA:Pulau Mandeh, Surga Bahari di Pesisir Selatan

Bagi pencinta laut, pesona Pantai Lampu Satu dan Pantai Payum wajib masuk daftar kunjungan. Lampu Satu dikenal dengan mercusuar tuanya yang menjadi saksi mata indahnya senja di ufuk barat. 

Sementara Pantai Payum menghadirkan ketenangan dan pemandangan burung-burung migran yang singgah setiap musim tertentu.

Masyarakat Merauke masih menjaga erat warisan budaya leluhur. Suku Marind, yang merupakan kelompok etnis terbesar di kawasan ini, memiliki tradisi bakar batu sebagai simbol persaudaraan dan rasa syukur. 

Ritual itu melibatkan seluruh warga, yang bersama-sama memasak makanan dengan cara tradisional di atas batu panas.

BACA JUGA:Petualangan Bamboo Rafting di Loksado

Festival Wasur menjadi agenda budaya yang selalu dinanti setiap tahun. Di festival ini, pengunjung dapat menyaksikan tarian adat, lomba perahu, hingga pameran kerajinan khas Papua Selatan. 

Irama tifa dan lagu daerah menggema di udara, memperlihatkan semangat masyarakat yang terus melestarikan budayanya.

Bahasa Marind masih digunakan dalam percakapan sehari-hari di banyak kampung, berdampingan dengan Bahasa Indonesia dan logat Melayu Papua. Identitas budaya inilah yang membuat Merauke berbeda dari kota lain di Indonesia.

Menjelajah Merauke bukan sekadar menikmati pemandangan, tetapi juga mengenal lebih dekat kehidupan masyarakatnya. 

BACA JUGA:Danau Tondano: Cermin Biru di Negeri Minahasa Sulawesi Utara

Wisatawan bisa melakukan trekking di Taman Nasional Wasur sambil mengamati satwa liar, menyusuri Sungai Maro dengan perahu motor, atau sekadar menunggu matahari terbit di Pantai Lampu Satu.

Kategori :