Jalan menuju tempat tersebut cukup sempit, hanya bisa dilalui satu kendaraan. Setibanya di sana, kami disambut ramah oleh Pak Ali, sang pemilik penginapan.
Ia mengantar kami ke bungalo kayu bergaya rumah panggung yang akan menjadi tempat beristirahat selama di Sawai.
Setelah sejenak melepas lelah dan menata barang, Pak Ali datang menghampiri dan menanyakan rencana kami menjelajahi desa dan wilayah sekitarnya, termasuk kunjungan ke Pantai Ora yang terkenal akan keindahannya.
Setelah diskusi singkat, ia menyarankan kami untuk berjalan kaki menyusuri desa dan mengenal langsung kehidupan masyarakatnya. Kami menyambut saran itu dengan antusias, dan kamera pun siap merekam setiap sudut yang menarik.
BACA JUGA:Pantai Kencana, Keindahan Alam yang Berpadu dengan Budaya Sumbawa
Di sepanjang jalan desa, tampak warga tengah melakukan kegiatan sehari-hari. Ada yang menjahit jaring ikan, menjemur hasil laut, mencuci, atau sekadar bercengkerama di teras rumah.
Kehadiran kami tidak membuat mereka canggung—warga Sawai sudah terbiasa dengan wisatawan, apalagi sejak penginapan Pak Ali berdiri dan membuka akses kunjungan bagi banyak orang dari luar.
Mayoritas penduduk Sawai berprofesi sebagai nelayan. Mereka menggantungkan hidup dari laut, dengan metode penangkapan ikan yang unik.
Selain memancing, mereka juga menggunakan teknik tradisional bernama kalawai, yaitu menangkap ikan dengan tombak khusus yang digunakan saat malam hari.
BACA JUGA:Liukang Loe: Permata Tersembunyi di Selatan Sulawesi
Di luar kegiatan melaut, sebagian warga juga bertani di kebun sekitar desa. Hasil utamanya berupa palawija dan buah tropis.
Saat berjalan lebih jauh, kami menemukan sebuah parit kecil yang menarik perhatian. Meski ukurannya tidak besar, parit ini sangat fungsional.
Selain menjadi saluran air, warga memanfaatkannya untuk mencuci dan mandi. Yang unik, pinggirannya dilapisi keramik, menjadikannya tampak seperti kanal mungil yang tertata indah.
Kami mengikuti aliran air ini hingga sampai di sebuah kolam besar di tengah desa, yang menjadi sumber air bersih utama.
BACA JUGA:Situs Gunung Padang: Menguak Tabir Megalitikum di Tanah Sunda
Airnya berasal dari mata air alami di kaki bukit. Di kolam itu, anak-anak bermain air dengan ceria, sementara para ibu mencuci pakaian dan peralatan rumah tangga.