Tari Bagurau, Kesenian Rakyat Minangkabau dengan Pantun dan Gurauan

Tari Bagurau, Kesenian Rakyat Minangkabau dengan Pantun dan Gurauan

Tari Bagurau memadukan musik tradisional, pantun, dan gurauan sebagai cerminan kebudayaan Minangkabau-Foto YouTube/Marina Dashari-

MEDIALAMPUNG.CO.ID - Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan seni dan budaya tradisional, salah satunya berasal dari ranah Minangkabau, Sumatra Barat. 

Di tengah beragam bentuk kesenian yang tumbuh dan berkembang, Tari Bagurau hadir sebagai seni pertunjukan rakyat yang unik karena menonjolkan unsur hiburan, humor, dan interaksi sosial. 

Berbeda dengan tarian tradisional yang bersifat sakral atau penuh aturan, Tari Bagurau justru menampilkan suasana santai dan akrab, mencerminkan karakter masyarakat Minangkabau yang gemar bersenda gurau namun tetap menjunjung nilai adat.

BACA JUGA:DANA Kaget 11 Februari 2026: Peluang Saldo hingga Rp331.000

Asal Usul dan Latar Belakang Tari Bagurau

Secara etimologis, kata bagurau dalam bahasa Minangkabau berarti bercanda, berkelakar, atau bersenda gurau. Sesuai dengan namanya, Tari Bagurau berkembang sebagai bentuk hiburan rakyat yang mengedepankan kegembiraan dan kebersamaan. 

Kesenian ini tumbuh dari tradisi lisan masyarakat Minangkabau yang gemar berpantun, bernyanyi, dan berbalas kata dalam suasana santai.

Pada awalnya, Bagurau tidak dikenal sebagai tarian murni, melainkan sebagai pertunjukan seni yang memadukan musik tradisional, pantun, nyanyian, dan gerak tubuh sederhana. 

Seiring waktu, unsur gerak tari semakin menonjol, sehingga pertunjukan ini kemudian dikenal luas sebagai Tari Bagurau.

BACA JUGA:Danau Laguna Ngade, Permata Tersembunyi di Ternate

Bentuk Pertunjukan Tari Bagurau

Tari Bagurau biasanya dipentaskan secara berkelompok, meskipun dalam beberapa kesempatan dapat pula dibawakan oleh individu. Gerakan tari yang ditampilkan cenderung sederhana dan tidak baku, mengikuti irama musik serta suasana pertunjukan. 

Fokus utama tarian ini bukan pada keindahan teknik gerak, melainkan pada ekspresi, keluwesan, dan kemampuan menghibur penonton.

Keunikan Tari Bagurau terletak pada sifatnya yang interaktif. Penari, pemusik, dan penyanyi sering kali berkomunikasi langsung dengan penonton melalui pantun atau gurauan ringan. Penonton pun tidak hanya menjadi penikmat pasif, tetapi kerap ikut tertawa, menanggapi pantun, bahkan menyampaikan permintaan lagu atau tema pantun tertentu.

BACA JUGA:Prasasti Munggu Antan, Jejak Penting Peradaban Sunda Kuno

Musik dan Pantun sebagai Unsur Utama

Iringan musik dalam Tari Bagurau menggunakan alat musik tradisional Minangkabau, seperti saluang, rabab, dan gendang. Alunan musiknya cenderung ringan dan mengalir, menyesuaikan dengan nuansa ceria pertunjukan. Musik ini berfungsi sebagai pengikat antara gerak tari dan lantunan pantun yang dibawakan.

Pantun merupakan elemen penting dalam Tari Bagurau. Isi pantun biasanya bersifat jenaka, menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat, kisah cinta, sindiran halus, hingga nasihat moral. 

Meski disampaikan dengan nada bercanda, pantun-pantun tersebut kerap mengandung pesan mendalam yang mencerminkan kearifan lokal Minangkabau.

BACA JUGA:Pepes Ikan, Kuliner Nusantara Aromatik dan Sehat

Busana dan Tata Rias

Dalam hal busana, Tari Bagurau tidak memiliki aturan yang kaku. Penari umumnya mengenakan pakaian adat Minangkabau yang sederhana, seperti baju kurung dan kain songket ringan. 

Tata rias pun dibuat natural, menyesuaikan dengan karakter pertunjukan yang bersahaja dan menghibur. 

Kesederhanaan busana ini justru menegaskan bahwa Tari Bagurau adalah seni rakyat yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

BACA JUGA:Labfor Polri Turun Tangan Selidiki Kematian Pria di Indekos Kedaton

Fungsi Sosial dan Nilai Budaya

Tari Bagurau memiliki fungsi sosial yang sangat kuat. Kesenian ini kerap dipentaskan dalam berbagai acara, seperti pesta adat, perayaan keluarga, acara nagari, hingga hiburan masyarakat di ruang terbuka. Melalui pertunjukan ini, tercipta ruang interaksi yang mempererat hubungan antar warga.

Selain sebagai hiburan, Tari Bagurau juga menjadi media penyampaian nilai moral dan sosial. 

Pesan-pesan tentang kehidupan, sopan santun, kebersamaan, dan kebijaksanaan sering diselipkan dalam pantun dan dialog ringan. Dengan cara ini, nilai-nilai adat dapat diwariskan tanpa kesan menggurui.

BACA JUGA:Terjebak dalam Survival Mode: Saat Tubuh dan Pikiran Terus Siaga Tanpa Henti

Perkembangan dan Pelestarian Tari Bagurau

Di era modern, Tari Bagurau menghadapi tantangan berupa perubahan selera masyarakat dan masuknya budaya populer. 

Meski demikian, kesenian ini masih bertahan berkat peran seniman lokal, komunitas budaya, serta dukungan pemerintah daerah. 

Beberapa pertunjukan Bagurau kini dikemas lebih kreatif agar dapat diterima generasi muda tanpa menghilangkan ciri khasnya.

BACA JUGA:Rakor 5 Pilar Digelar, Polresta Bandar Lampung Siap Amankan Mudik Lebaran 2026

Upaya pelestarian juga dilakukan melalui festival budaya, pendidikan seni di sekolah, serta dokumentasi pertunjukan. 

Dengan langkah-langkah tersebut, Tari Bagurau diharapkan tetap hidup sebagai bagian dari identitas budaya Minangkabau.

Tari Bagurau bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan cerminan cara masyarakat Minangkabau memandang kehidupan: serius dalam nilai, namun ringan dalam penyampaian. 

Melalui humor, musik, dan gerak sederhana, Tari Bagurau menghadirkan hiburan sekaligus pembelajaran sosial. Keberadaannya menjadi bukti bahwa seni tradisional dapat tetap relevan selama mampu beradaptasi dan terus dilestarikan oleh generasi penerus.(*)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: