Tradisi Rokat Tase Masyarakat Madura yang Sarat Makna
Rokat Tase’ adalah warisan budaya yang mencerminkan kearifan masyarakat pesisir Madura.-Foto sumenepkab.go.id-
MEDIALAMPUNG.CO.ID - Pulau Madura tidak hanya dikenal dengan produksi garamnya, tetapi juga memiliki beragam tradisi yang lahir dari kehidupan pesisir. Salah satu ritual penting yang masih bertahan hingga kini adalah Rokat Tase’.
Upacara adat tersebut menjadi cermin hubungan yang harmonis antara nelayan dengan laut yang setiap hari menjadi sumber kehidupan mereka.
Setiap tahun, pada tanggal 11 bulan Suro dalam penanggalan Jawa, masyarakat pesisir Madura berkumpul untuk melaksanakan tradisi tersebut. Bagi nelayan, laut bukan hanya tempat mencari nafkah, melainkan ruang yang memiliki kekuatan besar dan harus dihormati.
Karena itu, Rokat Tase’ dihadirkan sebagai doa bersama agar terhindar dari musibah sekaligus ungkapan syukur atas limpahan hasil tangkapan.
BACA JUGA:Tradisi Perang Nasi di Ngawi: Perayaan Panen yang Unik dan Penuh Keceriaan
Asal-usul dan Makna
Secara etimologis, kata rokat dalam bahasa Madura berarti “selamatan”, sedangkan tase’ artinya “laut”.
Dengan demikian, Rokat Tase’ bisa dimaknai sebagai selamatan laut.
Upacara ini serupa dengan tradisi petik laut di beberapa daerah pesisir lain di Indonesia, tetapi memiliki kekhasan tersendiri di Madura.
BACA JUGA:Lampung Barat Gelar Gerakan Pangan Murah Serentak, 22 Ton Beras Disalurkan
Tradisi ini berfungsi sebagai:
1. Penolak bala, yakni doa agar nelayan terhindar dari bahaya badai, ombak besar, maupun gangguan gaib ketika melaut
2. Ucapan syukur, atas rezeki hasil laut yang diperoleh.
3. Simbol penghormatan, kepada laut yang dipandang memiliki “penjaga” atau penguasa yang harus dihargai agar keseimbangan alam tetap terjaga.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




