Program ini mencakup penyediaan pupuk hayati cair di ribuan titik, bantuan alat pengering (dryer) untuk sentra produksi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui vokasi, hingga pembangunan infrastruktur jalan desa guna memperlancar distribusi dan efisiensi rantai pasok.
Pendekatan tersebut menempatkan desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru, sekaligus memastikan manfaat hilirisasi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Jika ekonomi Lampung ingin tumbuh kuat, maka desa harus tumbuh. Kita pastikan pertumbuhan dimulai dari desa, sehingga nilai tambah dari hilirisasi benar-benar tinggal dan dinikmati oleh petani,” tegasnya.
BACA JUGA:Agus Djumadi Dorong Reformasi Total Pengelolaan Sampah Bandar Lampung
Marindo juga mencontohkan sejumlah inovasi hilirisasi yang mulai berkembang, seperti pengolahan singkong menjadi tepung mocaf di Kabupaten Pringsewu, serta penguatan model bisnis komoditas strategis yang dapat direplikasi melalui kolaborasi lintas daerah.
Ia turut mengapresiasi peran Bank Indonesia yang selama ini aktif mendampingi pemerintah daerah dan masyarakat dalam mengembangkan model bisnis serta integrasi ekonomi komoditas di Lampung.
Dengan kolaborasi yang kuat dan langkah yang terarah, Lampung optimistis mampu menjadi daerah yang tidak hanya unggul sebagai produsen komoditas, tetapi juga berdaya saing dalam pengolahan dan distribusi, serta berkontribusi signifikan terhadap ketahanan pangan nasional.