MEDIALAMPUNG.CO.ID – Pindang gunung merupakan kuliner tradisional khas lereng pegunungan di wilayah Pekalongan dan sekitarnya, Jawa Tengah.
Sajian ini dikenal dengan kuah keruh kecokelatan yang gurih dan kaya rempah, berbeda dari pindang berkuah bening pada umumnya.
Hidangan berkuah hangat ini tumbuh dari tradisi memasak masyarakat pedesaan dataran tinggi.
Cita rasanya kuat, mencerminkan penggunaan bumbu alami dan proses memasak perlahan.
BACA JUGA:Hasil Seleksi JPTP Lampung Diumumkan, 6 Kandidat Lanjut Tahap Makalah dan Wawancara
Asal Usul dan Latar Budaya
Nama “gunung” merujuk pada daerah asalnya yang berada di kawasan pegunungan. Di wilayah berhawa sejuk, makanan berkuah panas menjadi pilihan utama untuk menghangatkan tubuh.
Masyarakat setempat memanfaatkan hasil ternak, terutama daging sapi, sebagai bahan utama.
Pindang gunung kerap hadir dalam kenduri, hajatan, dan acara keluarga sebagai simbol kebersamaan.
BACA JUGA:Sidang Isbat Ramadhan 1447 H Digelar Besok, Ini Prediksi Awal Puasa
Ciri Khas yang Membedakan
Keunikan pindang gunung terletak pada kuahnya yang keruh berempah. Warna dan rasa khas muncul dari perpaduan kluwek serta kelapa parut sangrai.
Daging sapi yang digunakan umumnya bagian sandung lamur atau tetelan. Proses memasak lama membuat teksturnya empuk dan bumbu meresap sempurna.
Aroma daun melinjo dan daun salam memberi sentuhan tradisional khas Jawa. Kombinasi ini menghadirkan rasa gurih yang dalam dan hangat di lidah.
BACA JUGA:Kasus Keracunan MBG di Kemiling, DPRD Tegaskan Keselamatan Siswa Tak Bisa Ditawar