Tari Indang Dindin Badindin, Warisan Dakwah Islam dari Pariaman

Tari Indang Dindin Badindin, Warisan Dakwah Islam dari Pariaman

Dari surau hingga festival budaya, Tari Indang terus lestari di Sumatera Barat-Foto IndonesiaKaya-

MEDIALAMPUNG.CO.ID - Tari Indang, yang juga populer dengan sebutan Tari Dindin Badindin, merupakan salah satu warisan seni pertunjukan tradisional yang tumbuh dan berkembang di wilayah Pariaman, Sumatera Barat. 

Tarian ini bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan cerminan akulturasi yang kuat antara nilai-nilai Islam dan budaya Minangkabau

Melalui gerakan yang sederhana namun sarat makna, Tari Indang menjadi bukti bahwa seni dapat berfungsi sebagai media pendidikan dan penyebaran nilai keagamaan.

Secara historis, Tari Indang diyakini berasal dari kawasan Padang Pariaman. Dalam tradisi lisan masyarakat setempat, tarian ini berkembang seiring masuknya Islam ke wilayah pesisir barat Sumatera. 

BACA JUGA:Prewedding Romantis di London, Syifa Hadju dan El Rumi Bikin Netizen Ikut Deg-degan

Para ulama yang datang dari Aceh memperkenalkan metode dakwah yang bersahabat dengan budaya lokal. 

Salah satunya adalah memadukan syair-syair keislaman dengan irama musik dan gerakan tubuh yang mudah diterima oleh masyarakat. Dari sinilah Tari Indang mulai dikenal dan diwariskan secara turun-temurun.

Pada masa awal kemunculannya, Tari Indang memiliki fungsi utama sebagai sarana dakwah. Tarian ini kerap dipentaskan di surau-surau oleh para pemuda sebagai bagian dari kegiatan keagamaan. 

Syair yang dilantunkan mengandung pesan moral, ajaran tauhid, serta nasihat kehidupan yang dibungkus dalam bahasa yang sederhana. 

BACA JUGA:Sopir Diduga Ingin Jual Rekaman CCTV, Kasus Inara Rusli Makin Memanas

Melalui irama tabuhan indang dan lantunan lagu Dindin Badindin, pesan-pesan tersebut dapat diterima dengan lebih ringan dan menyenangkan oleh masyarakat.

Ciri khas Tari Indang terletak pada formasi dan gerakannya. Para penari duduk bersila dalam satu barisan lurus, menyerupai saf dalam salat berjamaah. 

Jumlah penari biasanya ganjil, berkisar antara tujuh hingga dua puluh lima orang. Gerakan yang ditampilkan didominasi oleh permainan tangan, tepukan indang, serta ayunan tubuh yang bergerak maju dan mundur secara serempak. 

Kekompakan menjadi kunci utama, karena keindahan tarian ini lahir dari keselarasan gerak seluruh penari.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: