MEDIALAMPUNG.CO.ID – Gombyang Mayung merupakan kuliner berkuah khas pesisir utara Jawa Barat, terutama dari wilayah Indramayu.
Hidangan tradisional ini dikenal sebagai sajian sederhana para nelayan, namun memiliki cita rasa yang kuat, gurih, dan sedikit pedas.
Nama “gombyang” merujuk pada kuahnya yang melimpah dan cenderung encer, sedangkan “mayung” adalah sebutan lokal untuk ikan manyung, jenis ikan laut berdaging tebal yang kerap diasap agar lebih tahan lama.
Sebagai salah satu kuliner khas Pantura, Gombyang Mayung kini semakin dikenal luas dan menjadi daya tarik wisata kuliner Jawa Barat.
BACA JUGA:Link DANA Kaget 16 Februari 2026, Klaim Tanpa Upgrade ke Akun Premium
Asal-Usul dan Latar Budaya
Sebagai daerah pesisir, masyarakat Indramayu sejak lama bergantung pada hasil laut. Ikan manyung yang berukuran besar dan berdaging padat menjadi pilihan utama karena mudah diolah serta memiliki rasa gurih alami. Untuk memperpanjang masa simpan, ikan ini biasanya diasap terlebih dahulu.
Dari tradisi tersebut lahirlah Gombyang Mayung, yakni perpaduan ikan manyung asap dengan kuah berbumbu rempah yang segar dan ringan.
Hidangan ini kerap hadir dalam acara keluarga, hajatan, hingga perayaan adat masyarakat pesisir. Bagi warga setempat, Gombyang bukan sekadar makanan, melainkan simbol kedekatan dengan laut dan warisan kuliner turun-temurun.
BACA JUGA:iQOO 15 Ultra: HP Gaming Monster dengan AnTuTu 4,4 Juta dan Kipas Aktif
Ciri Khas Gombyang Mayung
Ciri utama Gombyang Mayung terletak pada kuahnya yang berwarna kuning cerah dari kunyit dengan tekstur lebih encer dibandingkan gulai atau opor. Kuah yang melimpah inilah yang membuat hidangan ini disebut “gombyang”.
Penggunaan ikan manyung asap memberikan aroma khas yang sedikit smoky dengan rasa gurih yang lebih mendalam. Perpaduan bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, lengkuas, dan cabai menciptakan sensasi hangat serta segar di lidah.
Berbeda dengan banyak masakan pesisir lain yang menggunakan santan, Gombyang Mayung justru mengandalkan kuah bening berbumbu. Hal ini membuat rasanya lebih ringan dan tidak enek, sehingga cocok dinikmati kapan saja.
BACA JUGA:MASAMO di Lampung, Sinergi Pemprov dan Kemenparekraf Perkuat SPPG dan Ekraf Kuliner