Baru Sebulan Sudah Mengelupas, Proyek Rigid Beton Air Hitam Diduga Asal Jadi

Baru Sebulan Sudah Mengelupas, Proyek Rigid Beton Air Hitam Diduga Asal Jadi

Pembangunan rigit beton jalan poros Kecamatan Air Hitam dikeluhkan warga lantaran baru selesai dikerjakan sudah terkelupas dan batu split mulai terlihat-Foto dok.-

LAMBAR, MEDIALAMPUNG.CO.ID – Kritik terhadap kualitas proyek infrastruktur jalan yang bersumber dari APBD Kabupaten Lampung Barat kembali mencuat.

Kali ini, sorotan tajam datang dari masyarakat Kecamatan Air Hitam yang mempertanyakan mutu pembangunan badan jalan berupa cor kaku atau rigid beton di ruas jalan poros Air Hitam, tepatnya di Pekon Semarangjaya sebelum turunan Jembatan Air Hitam.

Proyek yang baru selesai dikerjakan beberapa waktu lalu tersebut kini justru menunjukkan kondisi memprihatinkan.

Berdasarkan pantauan di lapangan dan informasi dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, permukaan rigid beton terlihat mulai mengalami kerusakan.

BACA JUGA:Pasca Pencabutan HGU SGC, Triga Lampung Minta Kemenhan Jamin Keberlanjutan Produksi Gula

Cor beton tampak mengelupas atau “ngelotok”, bahkan material split yang seharusnya terikat kuat oleh campuran semen dan pasir mulai bermunculan ke permukaan jalan.

Kondisi ini langsung memicu kekecewaan sekaligus kecurigaan masyarakat setempat.

Warga menilai pengerjaan proyek terkesan asal jadi dan tidak mengedepankan kualitas maupun kuantitas pekerjaan, meskipun proyek tersebut menggunakan anggaran negara.

“Ini jalan baru, tapi kondisinya sudah seperti jalan yang bertahun-tahun. Cor betonnya ngelotok, batunya keluar. Wajar kalau masyarakat bertanya-tanya, ini dikerjakan sesuai spesifikasi atau tidak,” ujar salah seorang warga Air Hitam yang enggan disebutkan namanya, Senin (2 Februari 2026).

BACA JUGA:Pemprov Lampung Sosialisasikan Pergub Jam Kerja ASN, Ditetapkan Minimal 37 Jam 30 Menit Per Minggu

Menurut warga, kerusakan yang muncul dalam waktu singkat sulit diterima akal sehat. Mereka menduga adanya kelalaian serius dalam proses pengerjaan, mulai dari kualitas material yang digunakan, metode pelaksanaan, hingga pengawasan proyek di lapangan.

“Kalau baru selesai saja sudah rusak, bagaimana nanti satu atau dua tahun ke depan? Jangan-jangan pengerjaannya memang hanya mengejar keuntungan, sementara kualitas dikorbankan,” lanjutnya dengan nada kesal.

Berdasarkan data pada papan informasi proyek di lokasi, kegiatan tersebut merupakan rehabilitasi atau pemeliharaan rutin jalan pada ruas Simpang Mutaralam–Gunung Terang.

Proyek ini memiliki nomor kontrak 600/197/KTR/MR.25/III.03/2025 dengan nilai kontrak sebesar Rp271.913.000.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: