MEDIALAMPUNG.CO.ID - Dunia kerja tidak lagi berdiri di atas kepastian seperti satu atau dua dekade lalu. Status karyawan tetap yang dulu dianggap puncak keamanan ekonomi kini mulai kehilangan daya tawarnya.
Di tengah biaya hidup yang terus meningkat dan peluang kerja yang semakin kompetitif, banyak orang mulai bertanya: mungkin sudah saatnya mencoba freelance.
Freelance hadir bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai alternatif rasional dalam menghadapi realitas kerja modern yang penuh ketidakpastian.
Banyak pekerja mulai menyadari bahwa kontrak kerja dan gaji bulanan tidak selalu sejalan dengan rasa aman.
BACA JUGA:UMR Tak Mengejar Biaya Hidup, Freelance Jadi Pelarian
PHK massal, efisiensi perusahaan, hingga kontrak jangka pendek menjadi fenomena yang kian lazim.
Dalam situasi ini, freelance menawarkan pendekatan berbeda. Alih-alih bergantung pada satu sumber penghasilan, pekerja lepas mengandalkan keahlian dan jejaring untuk menciptakan peluang.
Stabilitas tidak lagi bersumber dari perusahaan, melainkan dari kemampuan diri sendiri.
Fleksibilitas kerja sering disalahartikan sebagai kemewahan. Padahal bagi banyak orang, fleksibilitas adalah kebutuhan agar bisa bertahan.
BACA JUGA:Dari Kreatif ke Teknis: Evolusi Dunia Freelance
Freelance memberi ruang untuk mengatur waktu kerja, memilih proyek, dan menyesuaikan ritme hidup dengan kondisi personal.
Dalam konteks ini, freelance menjadi jawaban atas kejenuhan sistem kerja kaku yang sering kali mengorbankan kesehatan mental dan produktivitas jangka panjang.
Dalam sistem freelance, nilai seseorang tidak ditentukan oleh jabatan atau lama bekerja, melainkan oleh kualitas dan relevansi keahlian.
Model ini memang menuntut konsistensi dan disiplin tinggi, tetapi sekaligus membuka peluang pendapatan yang lebih proporsional.
BACA JUGA:Freelance Bukan Bebas Risiko, Ini Seni Mengatur Ketidakpastian