Dari FYP ke Invoice, Ketika Media Sosial Mengubah Cara Kita Bekerja
Perubahan dunia kerja kian nyata saat media sosial menjadi pintu masuk karier digital.--
MEDIALAMPUNG.CO.ID - Dulu, layar ponsel identik dengan hiburan semata. Video ringan, tarian singkat, hingga potongan drama hadir silih berganti di linimasa tanpa tuntutan apa pun. Kini, fungsi layar itu bergeser drastis.
Ia menjelma menjadi ruang kerja, ruang negosiasi, bahkan ruang transaksi. Dari kolom komentar hingga pesan langsung, dari FYP ke invoice, dunia kerja memperlihatkan wajah barunya yang semakin cair.
Perubahan ini tidak muncul secara instan. Ia lahir dari pergeseran cara manusia mencipta, menyebarkan, dan mengonsumsi informasi.
Media sosial tak lagi sekadar panggung eksistensi atau tempat mencari validasi, melainkan arena ekonomi yang nyata dan kompetitif.
BACA JUGA:Dari Sketsa Kecil ke Brand Besar, Perjalanan Freelance Desainer Mencari Pengakuan
Algoritma media sosial membuka jalur profesi yang sebelumnya tidak pernah tercatat dalam peta karier konvensional.
Kreator konten, social media specialist lepas, copywriter digital, hingga konsultan personal branding tumbuh dari ruang yang sama, yakni linimasa yang terus bergerak.
Popularitas tidak lagi ditentukan oleh ijazah atau jabatan, melainkan oleh konsistensi dan relevansi konten.
Interaksi menjadi tolok ukur baru. Sebuah video yang menembus FYP dapat berubah menjadi portofolio hidup yang disaksikan ribuan hingga jutaan orang. Dari titik itu, peluang kerja, tawaran kolaborasi, hingga kontrak profesional mulai berdatangan.
BACA JUGA:Dari Hiburan ke Penghasilan: Era Baru Pencipta Konten
Dunia kerja pun bergeser. Proses masuknya tidak selalu diawali dengan surat lamaran, tetapi oleh algoritma yang mempertemukan kebutuhan pasar dengan kemampuan individu.
Wajah baru dunia kerja juga menandai runtuhnya batas ruang dan waktu. Kehadiran fisik di kantor tidak lagi menjadi keharusan.
Jam kerja delapan pagi hingga lima sore mulai ditinggalkan. Banyak pekerja digital menyelesaikan tugas dari rumah, kafe, atau ruang publik selama terhubung dengan internet.
Namun kebebasan ini membawa konsekuensi. Kepastian gaji bulanan kian langka, struktur karier tidak selalu jelas, dan tidak semua kerja dihargai secara layak.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
