Ciri khas Tari Dana-Dana terletak pada gerakannya yang sederhana, lembut, dan penuh kebersamaan. Tarian ini biasanya dibawakan secara berkelompok oleh penari pria dan wanita yang saling berhadapan atau membentuk pola tertentu.
Gerakan yang ditampilkan tidak bersifat agresif, melainkan mengalir mengikuti irama musik dan syair yang dinyanyikan. Hal ini mencerminkan nilai kesopanan, keharmonisan, dan rasa saling menghormati antara sesama.
Selain gerak, busana yang dikenakan para penari juga menjadi unsur penting dalam Tari Dana-Dana. Penari perempuan umumnya mengenakan pakaian adat Gorontalo yang telah disesuaikan dengan nilai-nilai busana muslim.
Pakaian tersebut menutup aurat dan dilengkapi dengan hijab atau jilbab sebagai penutup kepala. Busana ini dihias dengan berbagai aksesori dan pernak-pernik yang berfungsi sebagai pemanis, namun tetap menjaga kesan anggun dan sopan.
BACA JUGA:Diskon Akhir Tahun 2025 Jam Tangan Alexandre Christie, Harga Mulai Rp800 Ribuan
Sementara itu, penari laki-laki mengenakan busana adat pria Gorontalo berupa baju berlengan panjang dan celana panjang. Mereka juga menggunakan penutup kepala serta sarung yang dililitkan di pinggang.
Penampilan penari pria mencerminkan kewibawaan, kesederhanaan, dan identitas adat yang kuat. Perpaduan busana penari pria dan wanita menciptakan keserasian visual yang menambah daya tarik pertunjukan Tari Dana-Dana.
Iringan musik dalam Tari Dana-Dana biasanya berupa nyanyian atau syair yang dilantunkan secara berbalas-balasan. Syair tersebut berisi ungkapan kegembiraan, doa, nasihat, serta pujian kepada Tuhan.
Irama musiknya ringan dan ritmis, sehingga mampu menciptakan suasana hangat dan penuh keakraban. Melalui lantunan syair inilah, pesan-pesan moral dan keagamaan disampaikan kepada penonton secara tidak langsung.
BACA JUGA:Siklon Tropis Bakung Aktif, Waspada Hujan Lebat Sepekan ke Depan
Di tengah arus modernisasi dan masuknya budaya populer, Tari Dana-Dana tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Gorontalo. Berbagai upaya pelestarian terus dilakukan, baik melalui pendidikan budaya di sekolah, pertunjukan seni daerah, maupun festival budaya.
Pemerintah daerah dan tokoh adat juga berperan aktif dalam menjaga eksistensi tarian ini sebagai bagian dari warisan budaya tak benda yang patut dibanggakan.
Dengan segala nilai sejarah, sosial, dan religius yang dikandungnya, Tari Dana-Dana bukan hanya sekadar tarian tradisional, melainkan juga cerminan jati diri masyarakat Gorontalo.
Melestarikan Tari Dana-Dana berarti menjaga warisan leluhur sekaligus merawat nilai-nilai kebersamaan, kesantunan, dan keimanan yang telah diwariskan secara turun-temurun.(*)