Horog-horog biasa disajikan dengan siraman sayur lodeh, pecel, atau opor ayam. Beberapa penjual juga menyajikannya dengan sambal kacang dan tambahan lauk seperti tahu, tempe, dan ayam goreng.
Saat disantap, horog-horog memberikan sensasi lembut sekaligus mengenyangkan, dengan rasa yang ringan namun nikmat.
Kini, di berbagai daerah, horog-horog juga mulai dimodifikasi menjadi hidangan modern, misalnya dijadikan menu pendamping sate seafood atau sebagai alternatif pengganti nasi dalam menu sehat rendah kalori, karena sagu memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibanding nasi putih.
BACA JUGA:Sejarah dan Filosofi Ganjel Rel, Kue Khas Semarang yang Melegenda
Makna Budaya dan Eksistensi Kini
Sebagai salah satu kuliner tradisional khas Jepara, horog-horog menjadi simbol ketekunan dan kearifan lokal masyarakat pesisir.
Meskipun sederhana, makanan ini menunjukkan bagaimana masyarakat mampu beradaptasi dengan sumber daya alam yang ada.
Saat ini, horog-horog masih banyak ditemukan di pasar tradisional dan warung makan khas Jepara. Beberapa pelaku UMKM bahkan berinovasi dengan kemasan modern agar horog-horog lebih dikenal secara luas dan diminati generasi muda.
BACA JUGA:Rahasia Lezat Mangut Nila, Hidangan Tradisional Khas Jawa
Kesimpulan
Horog-horog bukan sekadar makanan pendamping, tetapi juga warisan kuliner bersejarah yang mencerminkan identitas masyarakat Jepara.
Dengan rasa yang lembut, mudah dipadukan, dan nilai budaya yang kuat, horog-horog layak dijaga eksistensinya sebagai bagian dari kekayaan kuliner Nusantara.