Walaupun bahan dasarnya mirip, di berbagai daerah terdapat variasi bentuk dan rasa geti, misalnya:
- Geti wijen putih – lebih lembut dan beraroma khas dari wijen yang dominan.
- Geti kacang tanah utuh – memiliki rasa lebih kuat dan tekstur renyah menggigit.
- Geti modern – kini ada versi kekinian dengan tambahan rasa seperti cokelat, jahe, atau bahkan madu.
BACA JUGA:Jenang Krasikan: Manis Legit Khas Tradisi Jawa yang Sarat Makna
Nilai Gizi dan Makna Tradisional
Geti bukan hanya lezat, tetapi juga bergizi. Kandungan protein dari kacang tanah, zat besi dari gula merah, dan lemak sehat dari wijen menjadikannya sumber energi alami yang baik.
Selain itu, geti juga mencerminkan kearifan lokal masyarakat Indonesia dalam mengolah bahan sederhana menjadi camilan bernilai tinggi tanpa bahan pengawet.
BACA JUGA:Gempol Pleret: Minuman Tradisional Penyegar dari Tanah Jawa
Geti di Masa Kini
Meski kini banyak camilan modern bermunculan, geti tetap memiliki tempat di hati masyarakat.
Banyak pelaku UMKM yang mengemasnya dengan cara modern, misalnya dalam plastik vakum atau kotak cantik untuk oleh-oleh khas daerah.
Geti juga sering dijadikan buah tangan saat berkunjung ke daerah Jawa Tengah, seperti di Magelang, Kulon Progo, dan Temanggung.
BACA JUGA:Es Durian Bancar: Sajian Segar Khas Purbalingga yang Menggoda Selera
Kesimpulan
Geti merupakan camilan tradisional Indonesia yang sederhana namun sarat makna.
Perpaduan rasa manis, gurih, dan renyah membuatnya tak lekang oleh waktu.
Lebih dari sekadar kudapan, geti adalah simbol kreativitas dan kebersamaan masyarakat Nusantara dalam menjaga tradisi kuliner warisan leluhur.(*)