Setiap orang berperan sesuai kemampuannya—para pria mengangkat rumah, sementara para perempuan memasak untuk seluruh peserta. Kebersamaan seperti inilah yang memperkuat hubungan antarmasyarakat Bugis.
Tradisi ini juga mengajarkan ketekunan dan kesabaran. Mengangkat rumah besar bukan pekerjaan mudah.
Diperlukan tenaga, ketelitian, dan koordinasi yang baik agar rumah tidak miring atau rusak. Semua dilakukan dengan penuh kehati-hatian, menunjukkan rasa hormat terhadap warisan leluhur.
BACA JUGA:Kuntau: Seni Bela Diri Tradisional Banjar yang Menjadi Warisan Leluhur
Perubahan dan Tantangan di Masa Kini
Sayangnya, tradisi ini kini mulai jarang dilakukan. Salah satu penyebabnya adalah berkurangnya minat membangun rumah kayu panggung, karena banyak masyarakat beralih ke rumah permanen berbahan semen dan beton.
Padahal, konstruksi rumah modern tidak memungkinkan untuk dipindahkan seperti rumah kayu tradisional.
Perubahan gaya hidup juga turut memengaruhi. Di tengah kesibukan masyarakat modern, semangat gotong royong perlahan memudar.
BACA JUGA:Adat Istiadat Suku Dayak Kalimantan yang Masih Dilestarikan
Banyak orang lebih memilih menyewa jasa pindahan dibanding melibatkan tetangga dan kerabat. Akibatnya, tradisi seperti Mappalette Bola semakin langka ditemukan.
Namun, sejumlah komunitas budaya dan pemerintah daerah kini mulai berupaya melestarikan tradisi ini.
Dalam beberapa festival budaya di Sulawesi Selatan, sering diadakan simulasi atau pertunjukan Mappalette Bola untuk memperkenalkan kepada generasi muda dan wisatawan.
Langkah ini penting agar nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi tersebut tetap hidup di tengah perubahan zaman.
BACA JUGA:Kerajinan Anyaman Bambu dari Tomohon, Manado: Warisan Budaya yang Tetap Hidup
Makna yang Tetap Relevan
Mappalette Bola bukan sekadar memindahkan bangunan kayu, tetapi juga memindahkan nilai kebersamaan, kekeluargaan, dan gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia. Tradisi ini mengingatkan kita bahwa dalam kehidupan, hal-hal besar bisa tercapai jika dilakukan bersama-sama.
Bagi masyarakat Bugis, rumah adalah simbol kehidupan. Dengan memindahkannya secara utuh, mereka tidak hanya memindahkan tempat tinggal, tetapi juga harapan dan doa untuk masa depan yang lebih baik.
Tradisi ini menjadi bukti nyata bahwa warisan budaya Nusantara sarat dengan filosofi dan nilai kemanusiaan yang tinggi.