Kerajinan Anyaman Bambu dari Tomohon, Manado: Warisan Budaya yang Tetap Hidup
Kerajinan anyaman bambu dari Tomohon, khususnya di Kinilow, adalah bukti nyata bahwa budaya lokal dapat bertahan meski zaman terus berubah. -Foto Instagram@edwardlasut-
MEDIALAMPUNG.CO.ID - Kerajinan anyaman bambu merupakan salah satu bentuk seni tradisional yang masih lestari di berbagai daerah Indonesia.
Di Kota Tomohon, Sulawesi Utara, kerajinan ini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat setempat, terutama di Kelurahan Kinilow, Kecamatan Tomohon Utara.
Daerah ini dikenal luas sebagai pusat pengrajin bambu yang telah menekuni usaha turun-temurun, sekaligus mempertahankan kearifan lokal di tengah arus modernisasi.
BACA JUGA:Tari Burung Raja Udang: Simbol Kehidupan dan Keindahan Pesisir Jakarta Utara
Asal Usul dan Nilai Budaya
Sejak dahulu, masyarakat Minahasa memanfaatkan bambu sebagai bahan utama untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dari bahan ini, mereka membuat berbagai alat rumah tangga, perlengkapan pertanian, hingga sarana upacara adat.
Melalui kebiasaan tersebut, muncul keahlian menganyam bambu yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di Tomohon, kegiatan menganyam bambu bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga simbol kebersamaan dan ketekunan. Hampir setiap keluarga di Kinilow memiliki keahlian dasar dalam mengolah bambu.
Proses belajar biasanya dimulai sejak anak-anak, dengan meniru orang tua yang sedang membuat anyaman. Dari kegiatan sederhana inilah, lahir berbagai karya tangan yang bernilai seni tinggi dan memiliki fungsi praktis.
BACA JUGA:Ribuan Orang di 11 Kota Indonesia Akan Tampil dalam Gerakan 'Indonesia Menari 2025'
Proses Pembuatan yang Rumit dan Teliti
Untuk menghasilkan produk anyaman yang kuat dan indah, dibutuhkan ketelitian serta pengalaman panjang.
Prosesnya dimulai dengan memilih bambu yang sudah tua, karena seratnya lebih padat dan tahan lama.
Setelah bambu ditebang, batangnya dibersihkan dan dibelah menjadi bilah-bilah tipis sesuai ukuran yang diinginkan. Setiap bilah kemudian diraut hingga halus menggunakan pisau atau alat tradisional.
BACA JUGA:Ragam Suku Asli di Pulau Kalimantan dan Keunikan Budayanya
Tahapan berikutnya adalah pengeringan. Bilah bambu dijemur di bawah matahari agar kadar airnya berkurang, sehingga tidak mudah retak atau berjamur. Ada pula pengrajin yang merebus bambu sebelum dijemur agar warnanya lebih awet dan tidak dimakan serangga.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
