Pada 1920, Belanda mendirikan Technische Hoogeschool te Bandoeng, yang kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB).
Kampus ini kemudian melahirkan tokoh-tokoh penting bangsa, salah satunya Ir. Soekarno, yang kelak menjadi Presiden pertama Indonesia.
BACA JUGA:9 Manfaat Masker Telur untuk Kulit Wajah Glowing Secara Alami
Atmosfer akademis di Bandung juga melahirkan berbagai inovasi dan kreativitas.
Tidak heran jika Bandung kerap disebut sebagai kota seni dan desain.
Dari musik, mode, hingga kuliner, Bandung selalu menawarkan sesuatu yang baru.
Julukan Paris van Java muncul karena Bandung dianggap mirip kota Paris di Eropa dalam hal gaya hidup dan perkembangan budayanya.
BACA JUGA:Deretan Fitur Apple Watch 11, Berikut Harganya
Konferensi Asia Afrika 1955: Bandung Mendunia
Sembilan tahun setelah Bandung Lautan Api, kota ini kembali mencatat sejarah penting, kali ini di tingkat dunia. Pada 18–24 April 1955, Bandung menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika pertama.
Sebanyak 29 negara dari dua benua hadir untuk membicarakan persoalan bersama, terutama terkait kolonialisme dan kerjasama antarbangsa.
Pertemuan berlangsung di Gedung Merdeka, yang saat itu dihias sederhana namun penuh makna. Para pemimpin dunia dari berbagai latar belakang berkumpul dengan semangat persaudaraan.
BACA JUGA:19 Manfaat Cream Temulawak The Face untuk Kulit Cerah, Glowing, dan Awet Muda
Mereka membicarakan pentingnya solidaritas, penghormatan terhadap kedaulatan, serta penolakan terhadap segala bentuk penjajahan.
Dari konferensi inilah lahir Dasasila Bandung, sepuluh prinsip dasar hubungan antarnegara yang kemudian menjadi cikal bakal Gerakan Non-Blok.
Dengan terselenggaranya konferensi tersebut, Bandung menjadi sorotan dunia. Kota ini dikenal bukan hanya karena perjuangan rakyatnya, tetapi juga karena perannya dalam membangun diplomasi internasional.
Hingga kini, Museum Konferensi Asia Afrika di Gedung Merdeka masih berdiri dan menjadi saksi bisu peristiwa bersejarah itu.