Ibu-ibu berdagang sayuran, buah, hingga kue khas Banjar dengan cara saling mendekatkan perahu mereka. Suasananya meriah, penuh warna, dan tentu saja sangat fotogenik.
Untuk menuju Lok Baintan, kelotok biasanya berangkat dari pusat kota sejak pagi buta. Butuh waktu sekitar 1–1,5 jam perjalanan menyusuri Sungai Martapura. Pagi hari adalah saat terbaik karena matahari belum terik dan aktivitas pasar masih ramai.
BACA JUGA:Miniatur Nusantara di Taman Mini Indonesia Indah
Tips Menikmati Wisata Sungai
Agar perjalanan dengan kelotok semakin nyaman, ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan. Pertama, gunakan pakaian santai dan nyaman karena udara pagi di sungai cenderung sejuk, namun menjelang siang bisa terasa panas. Jangan lupa membawa topi, kacamata hitam, atau tabir surya.
Kedua, bawalah kamera atau ponsel dengan baterai penuh karena banyak momen menarik yang sayang dilewatkan. Pemandangan matahari terbit, aktivitas warga di bantaran sungai, hingga keriuhan pasar terapung adalah objek foto yang memikat.
Ketiga, selalu hormati aturan di setiap lokasi yang dikunjungi, terutama di kawasan konservasi seperti Pulau Bakut. Ingatlah bahwa wisata sungai bukan hanya tentang hiburan, tetapi juga kesempatan belajar mencintai alam dan budaya lokal.
BACA JUGA:Danau Kaolin Belitung, Destinasi Wisata dari Jejak Tambang
Menyusuri sungai dengan kelotok bukan sekadar wisata, melainkan pengalaman menyelami identitas Banjarmasin.
Dari kehidupan masyarakat tepian sungai, kuliner khas, hingga panorama alam yang memikat, semua tersaji dalam satu perjalanan yang sederhana namun sarat makna.
Jika suatu hari Anda berkunjung ke Kalimantan Selatan, luangkan waktu untuk naik kelotok.
Duduk di perahu bermotor sederhana, merasakan semilir angin pagi, sambil menyaksikan denyut kehidupan di atas sungai—itulah cara terbaik untuk memahami mengapa Banjarmasin layak disebut Kota Seribu Sungai.(*)