Tiwah: Upacara Penghantaran Arwah Masyarakat Dayak Ngaju

Minggu 10-08-2025,21:14 WIB
Reporter : Romdani
Editor : Budi Setiawan

Basir memimpin doa terakhir untuk memohon keselamatan roh dan berkah bagi keluarga yang ditinggalkan.

Setiap unsur dalam Tiwah mengandung makna mendalam. Sandung menjadi simbol rumah baru bagi roh, sementara ukirannya berfungsi sebagai pelindung spiritual. 

Hewan kurban melambangkan pengorbanan dan penghormatan kepada leluhur. Penyucian tulang menandakan bahwa roh telah dibersihkan dari segala hal buruk yang mungkin melekat selama hidupnya.

BACA JUGA:Fabriek Fikr: Merayakan Jejak Panjang Sardono W. Kusumo dalam Dunia Seni

Musik dan tarian dalam prosesi bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana doa yang diungkapkan melalui seni. 

Bagi masyarakat Dayak, irama musik dapat membuka jalan dan memberikan kekuatan bagi roh yang sedang menempuh perjalanan ke alam baka.

Tiwah berfungsi sebagai perekat sosial. Selama pelaksanaannya, semua lapisan masyarakat saling membantu. 

Kaum muda belajar langsung dari orang tua mengenai tata cara adat, sementara para tetua memastikan nilai-nilai leluhur tetap terjaga.

BACA JUGA:Pagelaran Sabang Merauke: Panggung Budaya Pemersatu dari Barat ke Timur Indonesia

Upacara ini juga menjadi momen untuk menampilkan seni tradisional Dayak. 

Alunan musik sape, bunyi gong yang ritmis, dan tarian yang penuh makna membuat Tiwah menjadi pertunjukan budaya yang memikat.

Meskipun Tiwah masih dijalankan, ada beberapa tantangan yang dihadapi. 

Biaya besar sering membuat keluarga menunda pelaksanaannya, bahkan menggabungkan Tiwah untuk beberapa anggota keluarga sekaligus. 

BACA JUGA:Ludruk: Cerminan Suara Rakyat dalam Balutan Humor

Perubahan zaman dan masuknya keyakinan baru juga memengaruhi pelestarian tradisi ini.

Berbagai pihak berusaha menjaga agar Tiwah tetap dapat dilestarikan. Pemerintah daerah, komunitas adat, dan pegiat budaya kerap kali mendukung pelaksanaan Tiwah sekaligus mempromosikannya sebagai daya tarik wisata budaya lokal 

Kategori :