Ukiran tersebut bisa menggambarkan motif hewan, tumbuhan, atau pola abstrak yang melambangkan kekuatan, perlindungan, dan hubungan manusia dengan alam.
Selain itu, keluarga juga harus mempersiapkan hewan kurban, seperti babi atau kerbau, sebagai bagian dari prosesi adat. Hewan ini akan digunakan sebagai persembahan dan jamuan bagi para tamu yang hadir.
Pelaksanaan Tiwah berlangsung selama beberapa hari, dipimpin oleh pemuka adat yang disebut basir.
Setiap tahapan memiliki makna tersendiri, mulai dari pembersihan spiritual hingga penghormatan terakhir kepada yang telah berpulang.
BACA JUGA:Keanekaragaman Budaya Indonesia: Warisan yang Perlu Dijaga
1. Pengambilan Tulang dari Makam
Tulang-belulang diambil dari makam lama dengan penuh kehormatan, diiringi doa dan nyanyian adat.
2. Penyucian Tulang
Tulang tersebut dicuci menggunakan air dan ramuan khusus untuk melambangkan penyucian jiwa sebelum berangkat ke alam baka.
BACA JUGA:Klana Rangga Puspita: Kisah Cinta dalam Balutan Topeng Malang
3. Pengarakan Menuju Sandung
Setelah dibungkus kain khusus, tulang diarak menuju sandung dengan iringan musik tradisional seperti gong, gendang, serta sape, ataupun tarian khas Dayak.
4. Penyembelihan Hewan Kurban
Hewan yang telah disiapkan disembelih sebagai persembahan adat. Dagingnya dimasak dan dibagikan kepada semua yang hadir.
BACA JUGA:Panggung Ekspresi Budaya Papua dalam Nuansa Kebersamaan adalah Bakar Batu
5. Doa dan Penutupan