Waruga: Pemakaman Batu Khas Minahasa yang Sarat Makna

Jumat 08-08-2025,21:22 WIB
Reporter : Romdani
Editor : Budi Setiawan

Setelah jenazah dimasukkan, batu penutup dipasang rapat. Tidak jarang keluarga juga menaruh barang-barang pribadi milik almarhum di dalamnya, seperti perhiasan, alat kerja, atau senjata, sebagai bekal untuk perjalanan roh menuju alam lain.

Bagi masyarakat Minahasa, kematian adalah tahap lanjutan dari perjalanan hidup. Waruga dipandang sebagai rumah bagi roh, sekaligus pelindung dari hal-hal yang mengganggu di alam gaib.

Bentuk rumah pada waruga melambangkan tempat perlindungan, sedangkan posisi duduk pada jenazah mengisyaratkan siklus kehidupan manusia.

Batu segitiga di bagian atas menjadi simbol atap dan kotak batu melambangkan dasar kehidupan yang kokoh.

BACA JUGA:5 Warung Nasi Telur Favorit di Malang yang Buka hingga Tengah Malam

Tradisi penggunaan waruga diperkirakan sudah ada sejak beberapa abad yang lalu, bahkan sebelum pengaruh agama luar masuk ke Minahasa. Puncak penggunaannya terjadi pada abad ke 19.

Namun, pada awal abad ke-20, pemerintah kolonial Belanda melarang penggunaannya dengan alasan kesehatan. 

Pemakaman di permukaan tanah dianggap berpotensi menimbulkan penyakit menular. Sejak saat itu, penggunaan waruga berangsur berkurang.

Meski tradisi tersebut sudah jarang dilakukan, jejaknya masih ada di beberapa wilayah Sulawesi Utara, terutama di Airmadidi serta Sawangan. Banyak waruga di lokasi tersebut kini menjadi situs sejarah yang dilindungi.

BACA JUGA:Marak Rokok Ilegal di Bandar Lampung, Harga Murah Jadi Daya Tarik

Waruga merupakan warisan budaya yang memuat nilai sejarah, seni, dan kepercayaan. Bentuknya yang khas dan filosofinya yang dalam menjadikannya sebagai identitas masyarakat Minahasa.

Pemerintah daerah bersama masyarakat setempat berusaha merawat keberadaan waruga melalui penetapan situs cagar budaya. 

Situs Waruga Sawangan, misalnya, kini menjadi destinasi edukasi yang memperkenalkan tradisi ini kepada wisatawan dan pelajar.

Pelestarian waruga menghadapi sejumlah hambatan, mulai dari kerusakan akibat cuaca, pertumbuhan lumut, hingga vandalisme dan pencurian benda-benda bersejarah dari dalam makam. 

BACA JUGA:Pasca Serangan Harimau, Polda Lampung Imbau Warga Tak Beraktivitas di Dekat TNBBS

Selain itu, kurangnya kesadaran generasi muda akan pentingnya warisan budaya juga menjadi masalah tersendiri.

Kategori :