5 Tradisi Idul Adha di Indonesia yang Unik dan Bernilai Wisata Budaya

Selasa 03-06-2025,14:11 WIB
Reporter : Romdani
Editor : Budi Setiawan

3. Grebeg Gunungan – Yogyakarta

Setiap kali Hari Raya Idul Adha (Kurban), Keraton Yogyakarta menggelar acara Grebeg Besar. Hal tersebut Salah satu bagian yang paling dan dinantikan adalah kirab Gunungan, yaitu tumpukan hasil bumi yang dibentuk seperti gunung.

Gunungan-gunungan tersebut diarak keluar dari dalam keraton menuju tempat-tempat penting seperti Masjid Gede Kauman dan Puro Pakualaman. Setibanya di lokasi, masyarakat akan berebut isi gunungan. Hal ini dipercaya membawa keberuntungan dan keberkahan. 

Tradisi Grebeg Gunungan memperlihatkan bagaimana nilai Islam berpadu erat dengan budaya kerajaan Jawa, dan menjadi pertunjukan budaya yang luar biasa menarik bagi wisatawan.

BACA JUGA:Menghidupkan Kembali Mainang Sayang di Tengah Gempuran Budaya Moderen

4. Manten Sapi – Pasuruan, Jawa Timur

Di Kabupaten Pasuruan, masyarakat punya cara unik dalam memperlakukan hewan kurban. Tradisi tersebut dikenal dengan sebutan Manten Sapi, ataupun pengantin sapi. Sebelum disembelih, sapi kurban akan dimandikan, dirias, dan diberi hiasan seperti bunga dan kain putih.

Tidak berhenti di situ, sapi-sapi tersebut kemudian diarak menuju masjid dengan iringan warga dan juga kesenian tradisional. 

Prosesi tersebut mengandung penuh makna: selain sebagai bentuk penghormatan terhadap hewan yang akan dikurbankan, Manten Sapi juga sebagai ekspresi keikhlasan serta rasa syukur. Keunikan tradisi ini menjadikannya tontonan budaya yang sayang untuk dilewatkan.

BACA JUGA:Rumah Adat Mukomuko: Simbol Kearifan Lokal dari Bumi Bengkulu

5. Mepe Kasur – Banyuwangi, Jawa Timur

Tradisi Mepe Kasur berasal dari Desa Kemiren, Banyuwangi, yang merupakan kampung adat suku Osing. Menjelang Idul Adha, warga akan menjemur kasur-kasur mereka secara bersamaan di depan rumah.

Kasur-kasur tersebut biasanya berwarna merah serta hitam, yang masing-masing melambangkan keberanian dan keabadian. Penjemuran dilakukan pada pagi hingga siang hari, sebagai simbol membersihkan diri dan rumah dari hal-hal buruk serta menjaga keharmonisan keluarga. 

Pemandangan deretan kasur yang dijemur serentak di sepanjang jalan desa menciptakan suasana yang unik dan estetis, sehingga menarik perhatian wisatawan dan fotografer.

BACA JUGA:Tradisi Mandi Balimau di Mukomuko: Penyambutan Ramadan dengan Kesucian Diri

Tradisi dan Wisata Budaya: Harmoni yang Kuat

Kategori :