Menghidupkan Kembali Mainang Sayang di Tengah Gempuran Budaya Moderen

Menghidupkan Kembali Mainang Sayang di Tengah Gempuran Budaya Moderen

Mainang Sayang diharapkan dapat kembali tampil dalam berbagai acara adat dan menjadi bagian hidup masyarakat Kaur. Foto: [email protected] --

MEDIALAMPUNG.CO.ID - Di tengah derasnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi, berbagai kesenian tradisional di Indonesia mengalami kemunduran. 

Salah satu yang kini hampir punah adalah kesenian Mainang Sayang, yang berasal dari Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu. 

Kesenian ini dulunya merupakan bagian penting dari perayaan adat, khususnya dalam acara pernikahan, namun kini mulai ditinggalkan masyarakat.

Kesenian Mainang Sayang telah diwariskan secara turun-temurun sejak zaman nenek moyang. 

BACA JUGA:Rumah Adat Mukomuko: Simbol Kearifan Lokal dari Bumi Bengkulu

Dulu, kesenian ini menjadi bentuk hiburan utama dalam berbagai hajatan, terutama malam resepsi pernikahan. 

Namun kini, budaya tersebut mulai memudar karena semakin sedikit masyarakat yang mengenal, memahami, apalagi mempertunjukkannya.

Salah satu penyebab utama menurunnya eksistensi Mainang Sayang adalah perubahan gaya hidup masyarakat. 

Seiring perkembangan zaman, banyak masyarakat yang lebih memilih bentuk hiburan modern yang dinilai lebih praktis dan efisien, seperti pertunjukan organ tunggal. 

BACA JUGA:Tradisi Mandi Balimau di Mukomuko: Penyambutan Ramadan dengan Kesucian Diri

Keberadaan hiburan tradisional dianggap kurang menarik dan membutuhkan banyak tenaga, biaya, serta persiapan.

Di sisi lain, generasi muda juga menunjukkan ketertarikan yang rendah terhadap kesenian ini. 

Banyak dari mereka yang tidak tertarik untuk belajar atau melanjutkan tradisi karena merasa kurang relevan dengan zaman sekarang. 

Kurangnya regenerasi membuat kesenian ini perlahan kehilangan pelaku dan penontonnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: