Keistimewaan lain dari Silek Lanyah adalah keterlibatan masyarakat dari berbagai usia dan latar belakang. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, laki-laki maupun perempuan, semua bisa ikut serta.
Ini menunjukkan bahwa tradisi ini bersifat inklusif dan tidak membatasi siapa pun untuk berpartisipasi.
Peserta biasanya mengenakan pakaian tradisional Minangkabau, seperti taluak balango, celana galembong, kain sarung, dan penutup kepala khas yang disebut deta. Pakaian ini bukan hanya untuk mempercantik tampilan, tetapi juga sebagai simbol identitas budaya yang dijunjung tinggi.
BACA JUGA:Lompat Batu Nias: Simbol Kearifan Lokal dan Ketangguhan Pemuda
Dari Budaya Menjadi Daya Tarik Wisata
Silek Lanyah kini telah menjadi salah satu atraksi wisata budaya unggulan di Kubu Gadang. Wisatawan dari berbagai daerah dan bahkan luar negeri datang untuk menyaksikan keunikan pertunjukan ini. Hal ini memberikan dampak ekonomi yang positif bagi warga setempat.
Banyak penduduk yang mulai membuka usaha, seperti warung makan tradisional, persewaan pakaian adat, hingga jasa pemandu wisata.
Artinya, tradisi ini tidak hanya menghidupkan kembali budaya, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi lokal.
BACA JUGA:Rumah Bolon: Warisan Arsitektur Tradisional Suku Batak di Samosir
Upaya Pelestarian dan Pengembangan
Masyarakat Kubu Gadang bersama pemerintah daerah berperan aktif dalam menjaga kelestarian Silek Lanyah. Festival dan pertunjukan rutin digelar untuk memperkenalkan budaya ini kepada generasi muda.
Latihan silek juga terus dilakukan di tingkat komunitas agar nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap diwariskan. Gerakan dalam Silek Lanyah juga terus berkembang. Beberapa di antaranya terinspirasi dari tari tradisional Minangkabau, sehingga membentuk perpaduan antara seni gerak dan seni bela diri.
Ini menjadi bukti bahwa budaya bisa terus hidup jika dikembangkan secara kreatif dan terbuka terhadap perubahan zaman.
BACA JUGA:Mengenal Danau Toba dan Budaya Batak yang Penuh Makna
Simbol Kekuatan Budaya Lokal
Silek Lanyah bukan sekadar atraksi, tetapi juga simbol dari kekuatan budaya lokal yang berakar kuat.