Pada era kemudian setelah berdirinya Kesultanan Banten, Umpu Junjungan Sakti dari Buway Belunguh Lampung melakukan lawatannya ke Banten.
Saat itu di Banten rupanya sedang terjadi huru hara yang diakibatkan oleh Si Buyuh, sehingga terjadi kekacauan dan chaos di wilayah Kesultanan Banten.
BACA JUGA:Gamolan Pekhing: Instrumen Musik Khas Lampung Barat
"Si Buyuh" dalam hal ini selain bermakna tokoh juga bermakna kias, akan perseteruan antara Kesultanan Banten yang mulai berdiri tegak versus Pakuan Pajajaran yang masih ingin menunjukkan eksistensinya.
Pihak Banten menyatakan sayembara untuk memberikan separuh wilayah kerajaan bagi siapapun yang berhasil memadamkan perlawanan Si Buyuh.
Akhirnya Umpu Junjungan Sakti dari Sekala Bekhak Lampung bersama para Hulubalangnya berhasil mengalahkan Si Buyuh, Banten menepati janjinya dengan memberikan separuh wilayah kerajaan pada Umpu Junjungan Sakti, namun ditolak secara halus oleh sang Umpu, dan beliau kembali ke Lampung.
Masa selanjutnya, kemuakhian Lampung Banten terus berlanjut hingga saling bertukar pasukan perang.
BACA JUGA:Terapang Lampung, Regalia Para Dapunta Pesagi Seminung
Ketika Banten membutuhkan pasukan, Lampung memberikan pasukan terbaiknya, begitu pula sebaliknya.
Kepentingannya Banten harus menaklukkan beberapa kerajaan kecil seperti Parung Kujang yang berada di Lebak.
Prasasti Kebon Kopi II Pakuan Bogor secara jelas menyebutkan 'Rakryan Kawi Aji Panyaca Pasagi' merupakan mandala Dapunta Srivijaya ditanah Pasundan--
Misi penaklukkan Parung Kujang adalah untuk mengIslamkan masyarakat di sana.
Ada empat puluh Hulubalang Lampung beserta pemimpin pasukannya yang dikerahkan untuk menaklukkan Parung Kujang adalah merupakan pasukan terbaik dari Lampung yang dikomandoi oleh Depati Minak Sangaji.
BACA JUGA:Semiotika Kapal Jung Lampung, Wahana Bahtera Kehidupan Manusia
Pertalian sejarah antara kedua kerajaan ini membuat Sultan Banten merasa berhutang budi pada Keratuan di Lampung, Banten akhirnya menawarkan posisi Adipati atau Raja di beberapa wilayah bawahan Kesultanan Banten.
Depati Minak Sangaji akhirnya menghabiskan masa hidupnya dengan memilih wilayah Anyer bersama dengan empat puluh Sekuren atau empat puluh Kepala Keluarga.