Mo Dulu-Dulu Lembah Bada: Tradisi Makan Bersama Sarat Nilai Persaudaraan

Mo Dulu-Dulu Lembah Bada: Tradisi Makan Bersama Sarat Nilai Persaudaraan

Mo Dulu-Dulu tradisi makan bersama di Lembah Bada yang menjaga persaudaraan dan harmoni masyarakat-Foto Instagram@geoparkposo-

MEDIALAMPUNG.CO.ID — Di tengah hamparan hijau dan sejuknya udara pegunungan Lembah Bada, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, hidup sebuah tradisi yang sarat makna dan nilai kebersamaan. 

Tradisi itu dikenal dengan nama Mo Dulu-Dulu, sebuah kegiatan makan bersama yang bukan hanya sekadar menikmati hidangan, melainkan juga mempererat tali persaudaraan antar warga. 

Hingga kini, tradisi ini masih dilestarikan dengan penuh kebanggaan oleh masyarakat di wilayah tersebut.

BACA JUGA:Suku Kajang di Bulukumba: Hidup Sederhana dan Menyatu dengan Alam

Asal-usul dan Arti Penting Mo Dulu-Dulu

Mo Dulu-Dulu berasal dari bahasa Lore, salah satu suku besar di Poso. Kata modulu berarti “makan bersama”, sementara dulu merujuk pada kegiatan yang dilakukan dalam satu lingkaran besar. 

Dalam bentuknya yang sederhana, tradisi ini mengajarkan nilai kesetaraan: semua orang duduk sejajar, berbagi makanan dari wadah yang sama, tanpa memandang status atau kedudukan.

Masyarakat Pamona dan Poso Pesisir memiliki tradisi serupa yang disebut Molimbu. Meski namanya berbeda, makna yang dikandung tetap sama—yakni menjaga kebersamaan dan saling menghargai antar anggota masyarakat. 

Sejak 2018, Mo Dulu-Dulu diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, menandakan betapa pentingnya tradisi ini sebagai Warisan Budaya yang hidup.

BACA JUGA:Sejarah dan Budaya Suku Tidung, Etnis Asli Kalimantan Utara

Suasana Pelaksanaan Tradisi

Mo Dulu-Dulu biasanya dilaksanakan saat panen raya, syukuran desa, atau saat menyambut tamu kehormatan. Acara dimulai dengan persiapan bahan makanan oleh seluruh warga secara gotong royong. 

Perempuan menyiapkan bumbu dan bahan, sementara laki-laki membantu mencari kayu bakar dan menata tempat makan.

Hidangan disajikan dalam wadah alami dari daun winalu atau iramajoko, sebagai pengganti piring. Aroma daun ini justru menambah cita rasa khas masakan. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: