Mengenal Tari Cepet, Kesenian Tradisional Sukabumi yang Sarat Makna Ritual
Tari Cepet berkembang di wilayah Kecamatan Ciracap, khususnya di Kampung Waluran, Desa Gunung Batu. -Foto Instagram@budayajabar-
MEDIALAMPUNG.CO.ID - Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dikenal sebagai daerah yang kaya akan tradisi dan kesenian rakyat.
Salah satu kesenian yang tumbuh dan berkembang di wilayah ini adalah Tari Cepet, sebuah tarian tradisional yang memiliki sejarah panjang serta makna budaya yang kuat.
Tari Cepet bukan sekadar hiburan, melainkan berakar dari ritual masyarakat yang berkaitan erat dengan kehidupan dan kepercayaan lokal.
Tari Cepet berkembang di wilayah Kecamatan Ciracap, khususnya di Kampung Waluran, Desa Gunung Batu.
BACA JUGA:DPRD Bandar Lampung Dorong Pembentukan Perumda Air Limbah untuk Tingkatkan Layanan Lingkungan
Pada masa awal kemunculannya, tarian ini merupakan bagian dari upacara ritual ngabungbang, sebuah prosesi adat yang dilakukan oleh masyarakat setempat sebelum membuka lahan atau membabat hutan.
Ritual ini dipercaya sebagai cara untuk membersihkan wilayah dari gangguan makhluk halus dan hewan buas yang diyakini mendiami hutan.
Sejarah Tari Cepet tidak bisa dilepaskan dari peristiwa perpindahan penduduk pada masa kolonial Belanda sekitar tahun 1937.
Saat itu, banyak warga dari Jawa Tengah dipindahkan ke wilayah selatan Sukabumi karena kepadatan penduduk di daerah asal mereka.
BACA JUGA:20 Manfaat Sabun Kolagen untuk Kulit Putih, Halus, dan Awet Muda
Wilayah tujuan, yakni kawasan Pajampangan yang kini dikenal sebagai Ciracap, masih berupa hutan lebat dengan kondisi alam yang liar dan minim pemukiman.
Para pendatang dari Jawa Tengah tersebut membawa serta tradisi dan kebudayaan leluhur mereka, termasuk bentuk tarian yang kemudian dikenal sebagai Tari Cepet.
Dalam konteks lingkungan yang masih dianggap angker dan berbahaya, tarian ini dijadikan media simbolik untuk menolak bala serta memohon keselamatan sebelum masyarakat mulai menetap dan membuka lahan.
Ciri khas Tari Cepet terletak pada penggunaan topeng-topeng berwajah seram. Bentuk topeng tersebut menggambarkan makhluk halus dan hewan buas yang diyakini menghuni hutan pada masa itu.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




