Oleh sebab itu, situs Tinggihari diduga menjadi tempat pelaksanaan upacara adat, penghormatan kepada nenek moyang, atau ritual yang berkaitan dengan siklus kehidupan dan kematian.
Keberadaan tinggalan megalitik ini juga mencerminkan tingkat organisasi sosial masyarakat pendukungnya.
Untuk memindahkan dan menyusun batu berukuran besar, dibutuhkan kerja sama banyak orang, perencanaan, serta kepemimpinan yang terstruktur.
Hal ini menandakan bahwa masyarakat prasejarah di Tinggihari telah memiliki sistem sosial yang cukup maju, meskipun belum mengenal tulisan. Nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong kemungkinan besar telah tumbuh sejak masa itu.
BACA JUGA:Libur Imlek 2026, Penumpang KA Rajabasa dan Kualastabas Meningkat Tajam
Dalam konteks regional, Tinggihari menjadi bagian penting dari jaringan situs megalitik yang tersebar di Sumatera Selatan.
Kabupaten Lahat sendiri dikenal memiliki ratusan tinggalan batu besar dari masa prasejarah. Namun, Tinggihari menempati posisi khusus karena diperkirakan berasal dari periode yang lebih awal dibandingkan banyak situs lain.
Hal ini membuatnya menjadi kunci untuk memahami tahap awal perkembangan budaya megalitik di Sumatra.
Bagi dunia penelitian, Tinggihari memiliki nilai ilmiah yang sangat tinggi. Situs ini dapat memberikan informasi mengenai pola permukiman manusia purba, sistem kepercayaan awal, serta hubungan manusia dengan lingkungannya.
BACA JUGA:Wardatina Mawa Mantap Cerai dengan Insanul Fahmi
Melalui penelitian arkeologi yang berkelanjutan, Tinggihari berpotensi membuka pemahaman baru tentang asal-usul masyarakat Melayu dan perjalanan panjang peradaban awal di wilayah barat Indonesia.
Meski memiliki nilai sejarah yang luar biasa, kondisi Tinggihari masih menghadapi berbagai tantangan.
Aktivitas manusia modern, seperti pembukaan lahan, pertanian, dan kurangnya pemahaman terhadap nilai cagar budaya, berisiko mengancam kelestarian situs ini.
Batu-batu megalitik yang telah bertahan ribuan tahun bisa mengalami kerusakan atau kehilangan konteks jika tidak dilindungi dengan baik.
BACA JUGA:Satpol PP Bandar Lampung Perkuat Pengawasan Ketertiban Jelang Ramadhan
Pelestarian Tinggihari membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah, peneliti, dan masyarakat lokal perlu bekerja sama untuk menjaga keberlanjutan situs ini.