MEDIALAMPUNG.CO.ID – Dunia kerja hari ini tidak lagi hanya ditentukan oleh jam kantor, atasan, atau ruang fisik. Algoritma telah mengambil peran besar sebagai “penentu tak kasatmata” yang bekerja tanpa henti.
Ia mengatur distribusi konten, menentukan visibilitas karya, bahkan memengaruhi siapa yang bertahan dan siapa yang tersingkir dalam ekosistem kerja digital.
Di tengah realitas ini, pekerja kreatif, freelancer, dan pekerja digital hidup dalam ritme baru: bekerja di tengah algoritma yang tak pernah tidur.
Bagi banyak pekerja lepas, algoritma platform digital kini berfungsi layaknya atasan. Ia menentukan apakah karya akan dilihat atau tenggelam, apakah akun akan tumbuh atau stagnan. Tanpa pemberitahuan, tanpa negosiasi, dan tanpa empati.
BACA JUGA:Saat Gaji Tak Menjamin, Karya Jadi Penopang Hidup
Pola kerja pun berubah. Produktivitas tidak lagi diukur dari kualitas semata, tetapi juga dari konsistensi unggah, interaksi, dan kemampuan membaca selera mesin.
Banyak kreator merasa harus selalu aktif, selalu responsif, dan selalu hadir agar tetap relevan. Situasi ini menciptakan tekanan baru yang tidak tertulis dalam kontrak kerja mana pun.
Narasi kebebasan dalam kerja digital perlahan bergeser. Fleksibilitas waktu memang masih ada, tetapi dibarengi tuntutan untuk selalu “siaga”.
Algoritma tidak mengenal libur, tidak paham konteks kelelahan, dan tidak memberi ruang jeda.
BACA JUGA:Dari Takut PHK ke Berani Freelance, Cara Anak Muda Menyelamatkan Diri
Bagi freelancer kreatif, bekerja dari mana saja kini sering berarti bekerja kapan saja. Notifikasi, deadline digital, dan tuntutan performa berbasis data membuat batas antara kerja dan hidup pribadi semakin kabur.
Ironisnya, di balik janji kemerdekaan kerja, banyak pekerja justru terjebak dalam ritme yang lebih padat dan tak terlihat.
Algoritma bekerja berdasarkan pola, angka, dan tren. Sementara kreativitas lahir dari intuisi, pengalaman, dan keberanian bereksperimen. Ketegangan antara dua dunia ini kian terasa.
Tak sedikit kreator yang merasa terpaksa menyesuaikan karya agar “ramah algoritma”, meski harus mengorbankan idealisme.
BACA JUGA:Hidup Tanpa Gaji Tetap dan Pergeseran Cara Memandang Kerja