Mumi Papua, Tradisi Pengawetan Jenazah Suku Dani Warisan Leluhur

Mumi Papua, Tradisi Pengawetan Jenazah Suku Dani Warisan Leluhur

mumi Papua adalah warisan budaya yang mencerminkan cara pandang masyarakat adat terhadap kehidupan dan kematian. -Foto Instagram@oll_si_anggrek_hitam-

MEDIALAMPUNG.CO.ID - Mumi Papua merupakan salah satu tradisi budaya yang paling unik dan jarang ditemukan di Indonesia. 

Tradisi ini adalah praktik pengawetan jenazah yang dilakukan oleh masyarakat adat di wilayah pegunungan Papua, terutama oleh Suku Dani yang mendiami Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya. 

Berbeda dengan mumifikasi di Mesir Kuno yang menggunakan bahan kimia dan teknik kompleks, mumi Papua diawetkan dengan cara tradisional dan alami, mencerminkan kearifan lokal serta kepercayaan spiritual masyarakat setempat.

Bagi masyarakat Papua pegunungan, kematian bukanlah akhir dari kehidupan, melainkan peralihan menuju dunia leluhur. 

BACA JUGA:Wisata Candi Cangkuang, Jejak Peradaban Hindu di Tengah Danau Garut

Oleh karena itu, jenazah orang-orang tertentu tidak dikuburkan, melainkan diawetkan agar tetap “hadir” di tengah keluarga dan suku. 

Tidak semua orang dimakamkan sebagai mumi. Biasanya, hanya tokoh penting, seperti kepala suku, panglima perang, atau orang yang dianggap berjasa besar bagi komunitas, yang memperoleh kehormatan ini. 

Dengan demikian, mumi bukan sekadar jasad, tetapi simbol kepemimpinan, kebijaksanaan, dan perlindungan leluhur.

Proses pembuatan mumi Papua dilakukan melalui teknik pengasapan. Setelah seseorang meninggal dunia, jenazah dibersihkan dan diposisikan dalam sikap duduk atau meringkuk. 

BACA JUGA:Gunung Tambora, Pesona Kaldera Raksasa yang Menyimpan Jejak Letusan Dahsyat

Tubuh kemudian ditempatkan di atas perapian kecil di dalam honai atau rumah adat. Api dijaga tetap menyala dengan intensitas rendah agar panasnya tidak merusak tubuh, tetapi cukup untuk mengeringkan cairan di dalamnya. 

Proses ini bisa berlangsung selama berbulan-bulan, bahkan hingga lebih dari satu tahun, tergantung kondisi jenazah dan cuaca lingkungan.

Selain pengasapan, perawatan mumi juga dilakukan secara berkala. Lemak atau cairan tubuh yang keluar akan dibersihkan, dan bagian tubuh tertentu seperti kulit atau rambut dirapikan agar tidak mudah rusak. 

Dalam beberapa kasus, lemak babi digunakan untuk melapisi kulit mumi agar tidak retak. Semua tahapan ini dilakukan dengan penuh kehati-hatian karena masyarakat percaya bahwa kesalahan dalam perawatan dapat mengganggu roh leluhur dan membawa malapetaka bagi suku.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: