Tidak ada sistem yang mengatur, tidak ada atasan yang mengingatkan, tidak ada gaji tetap yang menunggu di akhir bulan.
Semua harus diurus sendiri. Mulai dari mencari klien, menjaga reputasi, mengatur keuangan, sampai mengelola stres.
Freelance mengajarkan bahwa kebebasan selalu datang bersama risiko.
Dalam pola lama, karier sering dipahami sebagai tangga. Lulus, kerja, naik jabatan, pensiun. Dalam freelance, karier lebih menyerupai perjalanan. Tidak lurus, tidak selalu naik, kadang berbelok, kadang berhenti sejenak.
BACA JUGA:Freelance Bukan Sekadar Tren, Ini Alasan Mengapa Layak Dipilih
Ada fase ramai, ada fase sepi. Ada proyek besar, ada kerja kecil. Semua menjadi bagian dari proses pembentukan.
Di sinilah banyak orang mulai melihat karier bukan sebagai tujuan akhir, tetapi sebagai proses menjadi.
Menjadi lebih mandiri. Menjadi lebih percaya diri. Menjadi lebih sadar akan nilai diri.
Bagi generasi muda, freelance sering dipilih bukan karena gaya, tetapi karena realitas. Lapangan kerja sempit, gaji UMR tak selalu sebanding dengan biaya hidup, dan kompetisi makin keras. Dalam kondisi seperti ini, freelance terlihat lebih masuk akal.
BACA JUGA:Gelombang PHK Mendorong Ledakan Freelancer
Bukan berarti mudah. Bukan berarti instan. Tetapi setidaknya memberi ruang untuk mencoba, berkembang, dan bergerak. Daripada menunggu, banyak yang memilih mencipta.
Dan dari sanalah cara baru memandang karier lahir.
Freelance juga mengubah satu hal mendasar, bahwa karier tidak harus satu. Seseorang bisa menjadi penulis sekaligus desainer, editor sekaligus konsultan, kreator sekaligus pengajar. Identitas profesional tidak lagi dikotak-kotakkan.
Ini memberi ruang bagi mereka yang punya banyak minat, banyak potensi, dan tidak ingin terjebak dalam satu peran. Karier menjadi dinamis, bukan statis.
BACA JUGA:UMR Tak Mengejar Biaya Hidup, Freelance Jadi Pelarian
Bagi sebagian orang, ini melelahkan. Bagi yang lain, ini membebaskan.