Memulai dari Nol, Mengapa Freelance Butuh Keberanian

Memulai dari Nol, Mengapa Freelance Butuh Keberanian

Freelance bukan tentang nekat, tapi tentang berani memulai.--

MEDIALAMPUNG.CO.ID - Tidak semua orang memulai freelance dengan portofolio mentereng, jaringan luas, atau tabungan tebal.

Sebagian besar justru memulai dari titik paling dasar: nol klien, nol pengalaman profesional, dan nol kepastian. Di situlah keberanian diuji. Bukan keberanian untuk sukses, tetapi keberanian untuk mencoba.

Di tengah ketidakpastian ekonomi, gelombang PHK, dan upah yang sering tak sebanding dengan biaya hidup, semakin banyak orang memilih jalur freelance. Bukan karena mudah, tetapi karena sistem kerja lama semakin sulit memberi rasa aman.

Banyak pekerja hari ini hidup dalam paradoks. Bekerja penuh waktu, tetapi tetap merasa tidak cukup.

BACA JUGA:Freelance: Satu Skill Bisa Membuka Banyak Pintu

Gaji habis untuk kebutuhan dasar, sementara mimpi ditunda tanpa batas. Di sisi lain, perusahaan menuntut loyalitas tanpa bisa menjamin stabilitas.

Kondisi ini memaksa banyak orang berpikir ulang. Apakah akan terus bertahan dalam sistem yang tidak memberi ruang tumbuh, atau mencoba membangun jalan sendiri.

Ada stigma bahwa freelance hanya cocok untuk mereka yang sudah “jago”. Padahal, hampir semua freelancer sukses memulai dari nol. Dari proyek kecil, bayaran minim, bahkan dari pekerjaan gratis demi portofolio.

Memulai dari nol bukan tanda kegagalan, tetapi tanda keberanian. Keberanian untuk belajar, menerima kritik, dan jatuh berkali-kali. Di dunia freelance, proses sering lebih penting dari status.

BACA JUGA:Freelance Bukan Sekadar Pilihan Kerja, Tapi Cara Baru Mengatur Hidup

Setiap klien pertama adalah tonggak. Setiap revisi adalah sekolah. Setiap penolakan adalah latihan mental.

Di era digital, satu keahlian bisa membuka banyak pintu. Penulis bisa menjadi copywriter, content strategist, atau scriptwriter.

Desainer bisa mengerjakan branding, UI/UX, hingga ilustrasi. Editor video bisa masuk ke dunia iklan, media sosial, bahkan edukasi.

Inilah yang membuat freelance relevan bagi generasi muda, korban PHK, ibu rumah tangga, hingga pekerja yang ingin keluar dari rutinitas. Dengan satu skill, peluang terbuka ke mana-mana.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: