MEDIALAMPUNG.CO.ID – Pisang Rai merupakan salah satu jajanan tradisional khas Bali yang hingga kini tetap bertahan dan digemari lintas generasi.
Kudapan ini dikenal dengan cita rasa manis alami dari pisang matang yang berpadu dengan gurihnya kelapa parut serta aroma khas daun pisang.
Tak sekadar lezat, Pisang Rai juga memiliki nilai budaya yang kuat karena kerap hadir dalam upacara adat hingga sajian keluarga sehari-hari masyarakat Bali.
BACA JUGA:Jaja Bendu, Jajanan Tradisional Bali yang Sarat Makna dan Cita Rasa
Asal Usul dan Filosofi Pisang Rai
Dalam tradisi masyarakat Bali, pisang melambangkan kesuburan, kemakmuran, dan keberkahan. Pisang Rai kerap disajikan dalam upacara keagamaan sebagai bagian dari banten atau sesajen, yang menjadi simbol rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Kesederhanaan bentuknya mencerminkan filosofi hidup masyarakat Bali yang menjunjung keseimbangan dan harmoni dalam kehidupan.
Istilah “rai” dalam bahasa Bali bermakna balutan atau lapisan. Penamaan ini merujuk pada proses pembuatan Pisang Rai, yakni pisang yang dibungkus adonan tepung sebelum dikukus hingga matang.
BACA JUGA:Ikan Bakar Jimbaran: Ikon Kuliner Pesisir Bali yang Mendunia
Bahan Utama dan Ciri Khas Pisang Rai
Pisang Rai dibuat dari bahan-bahan sederhana yang mudah ditemukan, namun mampu menghasilkan rasa autentik. Pisang matang seperti pisang raja, kepok, atau uli dibalut adonan tepung beras yang dicampur air dan sedikit garam.
Setelah dikukus, pisang kemudian digulingkan dalam kelapa parut segar yang telah dikukus dan dibumbui ringan.
Ciri khas Pisang Rai terletak pada teksturnya yang lembut di bagian dalam, dengan lapisan tepung yang kenyal dan kelapa parut yang gurih di bagian luar.
Aroma daun pisang yang digunakan saat proses pengukusan turut memperkaya cita rasa jajanan tradisional ini.
BACA JUGA:Nasi Yasa, Kuliner Sakral Bali dengan Filosofi Mendalam