Petake Gerinjing: Tarian Pagar Alam yang Mengajarkan Harmoni dengan Alam

Selasa 30-12-2025,18:39 WIB
Reporter : Romdani
Editor : Budi Setiawan

MEDIALAMPUNG.CO.ID  - Indonesia dikenal sebagai negeri yang kaya akan seni dan budaya, salah satunya melalui warisan seni tari tradisional yang tersebar di berbagai daerah. Setiap tarian tidak hanya menampilkan keindahan gerak, tetapi juga menyimpan pesan moral, nilai adat, serta refleksi kehidupan masyarakat setempat.

Salah satu tarian tradisional yang sarat makna dan relevan dengan isu masa kini adalah Tari Petake Gerinjing dari Pagar Alam, Sumatra Selatan.

Tari Petake Gerinjing lahir dari kearifan lokal masyarakat Pagar Alam yang dikenal memiliki hubungan erat dengan alam dan adat istiadat leluhur.

Tarian ini tidak sekadar menjadi hiburan atau pertunjukan seni, melainkan juga media penyampaian pesan tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, lingkungan, dan norma sosial.

BACA JUGA:Indodax Klarifikasi Isu Dugaan Dana Pengguna Hilang, Tegaskan Keamanan Sistem Tetap Terjaga

Asal Usul dan Latar Cerita

Tari Petake Gerinjing terinspirasi dari kisah masyarakat Pagar Alam pada masa lampau yang digambarkan hidup makmur dan damai. Namun, keharmonisan tersebut perlahan rusak ketika sebagian masyarakat mulai melanggar norma adat dan nilai moral yang dijunjung tinggi. Perilaku menyimpang, seperti mengabaikan adat, merusak lingkungan, dan tidak menjaga etika sosial, diyakini membawa murka alam.

Dalam cerita yang menjadi dasar tarian ini, pelanggaran tersebut berujung pada bencana besar berupa banjir bandang yang menghancurkan permukiman dan kehidupan masyarakat.

Kisah ini kemudian diwujudkan dalam bentuk gerak tari sebagai pengingat bahwa manusia harus hidup selaras dengan alam dan mematuhi aturan adat yang telah diwariskan oleh leluhur.

BACA JUGA:Perketat Disiplin Hunian, Rutan Krui Gelar Salam Pemasyarakatan dan Razia Barang Berlebih

Makna Nama Petake Gerinjing

Nama “Petake Gerinjing” sendiri memiliki makna simbolis.

Dalam tradisi masyarakat Pagar Alam, istilah ini kerap dikaitkan dengan tanda atau peringatan akan datangnya bencana akibat kelalaian manusia.

Oleh karena itu, tarian ini menjadi semacam nasihat kolektif yang disampaikan melalui bahasa seni, agar masyarakat tidak mengulangi kesalahan yang sama.

BACA JUGA:Pemkot Bandar Lampung Serahkan SK PPPK Paruh Waktu kepada 5.800 Honorer

Kategori :