Cairan antiseptik memiliki peran penting dalam menghambat pertumbuhan dan membunuh kuman penyebab infeksi. Penggunaannya dianjurkan pada luka yang berisiko tinggi terkontaminasi bakteri.
Meski efektif, antiseptik sebaiknya digunakan secara bijak dan tidak berlebihan karena pemakaian jangka panjang dapat mengganggu proses regenerasi jaringan kulit.
Pada kondisi tertentu seperti luka kronis, luka diabetes, atau luka yang sulit sembuh, tenaga medis biasanya merekomendasikan cairan pembersih khusus.
Cairan ini diformulasikan untuk menjaga keseimbangan kelembapan luka sekaligus mendukung pertumbuhan jaringan baru tanpa menyebabkan iritasi.
Cairan yang Perlu Dihindari untuk Membersihkan Luka
Tidak semua cairan aman digunakan untuk membersihkan luka. Cairan dengan sifat terlalu keras, seperti alkohol berkadar tinggi atau hidrogen peroksida, berisiko merusak jaringan sehat di sekitar luka jika digunakan berulang.
Penggunaan cairan tersebut sebaiknya dibatasi dan hanya dilakukan atas anjuran tenaga kesehatan, terutama pada luka terbuka atau luka dalam.
BACA JUGA:Borong 18 Emas di Jabar Open 2025, Atlet Gimnastik Lampung Tuai Apresiasi
Cara Membersihkan Luka dengan Benar
Langkah awal pembersihan luka sangat menentukan hasil penyembuhan. Pastikan tangan dalam kondisi bersih sebelum menyentuh area luka untuk mencegah perpindahan kuman.
Setelah itu, bilas luka menggunakan air bersih atau larutan saline guna menghilangkan kotoran dan darah.
Jika diperlukan, cairan antiseptik dapat digunakan secukupnya dengan bantuan kasa bersih. Hindari menggosok luka secara kasar agar jaringan tidak mengalami kerusakan tambahan.
Setelah luka bersih, keringkan area sekitar luka dan tutup dengan perban atau kasa steril.
BACA JUGA:BNPB Catat Lonjakan Korban Banjir dan Longsor di Sumatera, Korban Tewas Capai 1.138 Orang
Tips Tambahan Agar Luka Cepat Sembuh